Saparinah Sadli: Nation Builder di Bidang Gender dan Pejuang Kemanusiaan

Penulis:  Didi Kwartanada1

 SEJARAH mencatat ketokohan Prof Dr Saparinah Sadli (81) dalam berbagai peristiwa penting yang menjadi tonggak perjuangan perempuan untuk terbebas dari segala bentuk kekerasan dan diskriminasi. Dia adalah sosok yang ilmuwan dan pekerja hak asasi manusia yang tak pernah pensiun.

Perjalanannya yang panjang dan penuh, teguh dan kukuh, adalah perpaduan antara ‘kebetulan-kebetulan yang bermakna’, dorongan teman, sahabat dan suami, serta kehendak untuk terus belajar dan bekerja.2

 Pengantar

Nama Saparinah Sadli telah malang melintang di dunia akademik Indonesia semenjak tahun 1970-an. Beliau dikenal luas selaku dosen senior psikologi dan salah satu pelopor di bidang studi perempuan dan gender di Indonesia, serta seorang aktivis di bidang isu perempuan dan kemanusiaan. Totalitas dedikasinya, baik sebagai seorang akademisi maupun aktivis yang gigih memperjuangkan hak-hak perempuan dan isu gender, serta Hak Asasi Manusia, telah memperoleh beberapa penghargaan. Diantaranya adalah “Cendekiawan Berdedikasi Harian Kompas” pada tahun 2009, “The Asia Special Lifetime Achievement Award” pada tahun 2008 dan “Anugerah Hamengkubuwono IX” dari Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, tahun 2004.

Sejak tahun 2002 nama Saparinah diabadikan sebagai nama satu award yang diberikan kepada perempuan mumpuni yang telah berkiprah dalam berbagai bidangnya, yang oleh juri kiprahnya dinilai sekuat dan sedalam apa yang dilakukan Saparinah Sadli dalam kerja aktivismenya yang tidak kenal lelah. Sejauh ini, “Anugerah Saparinah Sadli” telah tiga kali diselenggarakan, masing-masing di tahun 2004, 2007 dan 2010. Semuanya merupakan pengakuan atas kiprah dan pengabdian Saparinah pada masyarakat luas. 3

Terbentuknya Seorang Akademisi yang Sadar Gender

Prof. (Emeritus) Dr. Saparinah Sadli, dilahirkan di Tegalsari, Jawa Tengah, 24 Agustus 1927. dari pasangan Bapak R.M. Soebali, Bupati Kudus, dengan Ibu R.A. Mintami. Sebagai puteri priyayi, Saparinah beruntung bisa menempuh Sekolah Dasar bagi golongan Eropa, Europeesche Lagere School (ELS) di Purwokerto, dari tahun 1933-1940. 4 Maka dirinya dikenal fasih berbahasa Belanda, disamping bahasa Inggris, suatu kebiasaan yang masih dilakukannya saat berkomunikasi dengan kawan-kawan sebayanya. Walaupun keluarganya sudah berpendidikan Barat, namun sebagai anak perempuan, Saparinah rupanya masih mengalami pembedaan perlakuan. Namun ia tidak menerimanya begitu saja dan mulai mempertanyakan mengapa dirinya sebagai perempuan, mesti dibedakan

Dalam pengalaman saya, ibulah yang terutama menentukan tentang apa yang harus/boleh dan perlu saya lakukan sebagai anak perempuan. Seperti naik sepeda keliling kota bersama teman-teman perempuan pada Sabtu sore, maka izinnya datang dari ibu. Bila saya pikirkan kembali pengalaman masa kanak-kanak dan remaja saya, kesimpulan saya ialah: meskipun perilaku konform terhadap ketentuan orangtua berlaku bagi anak laki-laki dan perempuan, namun terhadap perempuan perilaku untuk “manut dan nurut” (konform terhadap apa yang telah ditentukan orangtua) diterapkannya secara lebih ketat dan kaku.

 Dibesarkan dengan nilai-nilai Jawa seperti tersebut tadi, saya terus terang kadang-kadang iri pada kakak laki-laku yang lebih bebas mengisi waktu luangnya atau dalam memilih teman bermainnya.5

Saparinah sempat bersekolah di Van Deventer School, Solo selama satu setengah tahun, hingga runtuhnya Hindia Belanda. Memasuki zaman Jepang, dia menempuh pendidikan SMP-nya di Semarang dan Yogyakarta (1942-1945). Pada jenjang SMA, Saparinah memilih Sekolah Asisten Apoteker (AA) di Yogyakarta yang bisa diselesaikan dalam dua tahun. Alasannya menuntut ilmu di sana adalah “memenuhi keinginan orang tua. Juga karena saat baru mengungsi dan belum sekolah saya sering diajak seorang kenalan (perempuan) yang bekerja sebagai AA di apotek rumah sakit Purwodadi.” Disamping itu dirinya juga mengagumi semangat kerja ilmuwan dunia, Madame Marie Curie, yang dikenalnya lewat bacaan.6 Selesai menuntut ilmu sebagai AA (1946-1948) kemudian Saparinah sempat bekerja di Apotek Wisnu, Yogyakarta (1950-1952) sambil mengikuti kuliah di Fakultas Farmasi Universitas Gadjah Mada (UGM), yang tidak sempat diselesaikannya. Saparinah pernah pula bekerja di Kudus pada klinik praktek dokter.

Seiring dengan bertambahnya usianya, masih ada peristiwa lain yang mengesankan Saparinah sehubungan dengan isu gender di dalam keluarganya. Setelah menyelesaikan studi Asisten Apoteker, ia mendapatkan izin dan restu dari orangtua untuk bekerja maupun melanjutkan sekolahnya. Hal ini merupakan sesuatu yang luarbiasa baginya, karena Ibunya menganggap bahwa anak perempuan yang sudah meningkat dewasa seharusnya tinggal di rumah. Apalagi karena ia puteri yang tertua. Izin inilah yang kemudian membuka pintu lebar-lebar untuk melanjutkan studi yang ia minati.7

Setelah mendapatkan ijin orangtua, Saparinah merantau ke ibukota. Di sana dia kembali bekerja sebagai Asisten Apoteker di apotek yang ternama, van Gorkom, sampai awal tahun 1954. Namun di titik ini dirinya sadar bahwa apotek dan farmasi bukanlah dunianya yang sesungguhnya, sehingga ia memutuskan untuk belajar Psikologi di Universitas Indonesia (UI). Apakah alasannya memilih belajar satu hal yang sama sekali baru? Dengan jujur dan rada jenaka, Saparinah menuturkan

Suatu hari saya membaca di koran ada tes oleh lembaga psikometri. Saya ikut tes dan diterima sebagai peserta kursus psikologi (embrio Fakultas Psikologi, Universitas Indonesia). Saat ikut tes saya tidak tahu apa itu ilmu psikologi kecuali bahwa terkait pada perilaku manusia. Sesuatu yang menarik bagi saya. Karena sebagai AA [Asisten Apoteker, D.K] saya meracik obat bagi orang lain, tetapi jarang berjumpa dengan orang yang diracikkan obatnya. Karena setiap hari berhadapan dengan resep, timbul keinginan untuk melakukan hal lain. Alasan saya as simple as that. 8

Dalam masa-masa peralihan ini, Saparinah menikah di tahun 1954 dengan Mohammad Sadli (1923-2008), seorang dosen muda Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, yang kemudian menjadi belahan jiwanya di seumur hidupnya. Prof. Dr. Moh. Sadli M.Sc. pernah menjabat Menteri Tenaga Kerja (1971-1973) dan Menteri Pertambangan (1973-1978), yang kemudian meneruskan karirnya selaku Guru Besar FE UI.9 Berhubung Sadli mendapatkan beasiswa ke Massachusetts Institute of Technology (MIT) yang terkemuka di Amerika Serikat (1954-1957), maka Saparinah meninggalkan kuliahnya. Sekembalinya di Indonesia di tahun 1957, dia meneruskan studi psikologi hingga selesai di tahun 1961.10

Mula-mula Saparinah dikenal sebagai psikolog, dosen dan peneliti dengan minat pada penelitian perilaku menyimpang. Topik ini kemudian diangkatnya sebagai disertasinya, serta dipertahankannya di usianya yang ke-49.11 Karirnya di dalam disiplin ilmu yang digelutinya semakin meningkat. Pada tahun 1976-1981 Saparinah diberi amanat untuk menjadi Dekan Fakultas Psikologi UI. Empat tahun setelah meraih gelar doktor, Saparinah dikukuhkan menjadi Guru Besar di almamaternya, dengan pidato pengukuhan yang berjudul Psikologi di Indonesia: Sumbangannya kepada Masyarakat serta Masalah-masalah dalam Perkembangannya.12 Guru Besar Emeritus di Fakultas Psikologi Universitas Indonesia ini adalah satu dari sedikit psikolog yang sampai sekarang tetap setia menjadi dosen di almamaternya, dan konsisten mengadakan pengamatan dan penelitian di seputar bidang keahliannya.

Setelah suaminya wafat di tahun 2008, Saparinah masih tetap energik dan aktif mengajar, juga menulis tulisan ilmiah, artikel di koran serta melakukan pembimbingan tesis. Selain itu dia juga masih membagikan ilmunya di Kajian Wanita dan Kajian Ilmu Kepolisian, keduanya di Pascasarjana UI, serta di beberapa institusi pendidikan tinggi lainnya di seluruh Indonesia. Selain kumpulan tulisannya Berbeda tetapi Setara-Pemikiran tentang Kajian Perempuan (Penerbit Buku Kompas, 2010), buku terbarunya adalah Menjadi Perempuan Sehat dan Produktif di Usia Lanjut (Kajian Wanita UI, 2007), yang sedang dalam proses cetak ulang oleh Penerbit Buku Kompas (2012).13

Secara ringkas, sumbangsih Saparinah dalam bidang psikologi nampak jelas dari pernyataan Nafsiah Mboi di tahun 1997 berikut ini

Namun demikian, memandang Ibu Sap sekadar sebagai seorang psikolog yang peduli perempuan, tidaklah memberikan gambaran yang lengkap tentang diri dan perjuangannya. Secara terus menerus dan konsisten dia mendidik (lebih dari 30 tahun mengajar di Universitas Indonesia), menulis (dalam bahasa Indonesia, Inggris dan Belanda) sekaligus mengembangkan institusi (Program Studi Kajian Wanita di Universitas Indonesia dan universitas lain di berbagai penjuru tanah air). Dengan demikian, Ibu Sap telah menjunjung tinggi tradisi akademik yang hidup selama berabad-abad: dia telah mencari dan mengembangkan pengetahuan baru, dia juga telah menciptakan suatu lingkungan yang memungkinkan orang lain untuk berbuat yang sama, suatu prestasi yang langka dan sangat terhormat.

Karya dan usahanya telah memungkinkan kita sebagai perorangan dan masyarakat, untuk memandang dengan kacamata baru: diri kita, potensi kita dan hubungan kita satu sama lain… 14

Ketiga hal yang disebutkan di atas, yakni mendidik, menulis dan mengembangkan institusi, merupakan upaya nyata seorang Saparinah atas Tridharma Perguruan Tinggi (pendidikan, penelitian, dan pengabdian pada masyarakat). Disamping itu ada kelebihan lain dari Saparinah yang dituturkan oleh seorang mantan muridnya

Ciri khas tulisannya, mirip kutipan-kutipan pendapatnya di majalah dan suratkabar, juga perkuliahan yang dibawakannya. Gaya tutur sederhana, membumi dan tak banyak menggunakan rujukan ilmiah yang kadang justru membuat kening berkerut. Untuk mereka yang ingin tahu dan baru belajar tentang “Studi Perempuan” khususnya “Studi Perempuan di Indonesia”, pemikirannya juga dapat menjadi pintu gerbang perkenalan.15

Dengan gaya tutur yang “membumi” seperti uraian di atas, Saparinah layak dikategorikan sebagai seorang “public intellectual”, bukan seorang ilmuwan yang berbangga diri berdiam di menara gading, namun secara aktif ikut memberikan pencerahan kepada masyarakat. Apalagi kemudian dirinya sering tampil di seminar umum, menulis di media massa dan menjadi seorang aktivis dalam isu-isu gender serta HAM.

Saparinah dan Isu Gender

Ketertarikan Saparinah pada isu perempuan mulai menguat ketika pada awal 1980-an ia membaca berbagai buku tentang psikologi perempuan (psychology of women). Buku-buku dengan topik tersebut mulai terbit di Negara Barat sekitar pertengahan tahun 1970-an, bertujuan mengoreksi bias dalam Ilmu Psikologi dengan menyajikan informasi tentang kelompok perempuan yang semula dipinggirkan dalam penelitian dan teori psikologi. Juga untuk memperkenalkan perspektif baru tentang peran gender dan kemungkinan perubahannya.16 Diantara karya-karya yang mempengaruhinya, bisa disebut tulisan Michele Paludi, Psychology of Women dan Janet Shibley Hyde, Half The Human Experience: The Psychology of Women.17 Barangkali pengalamannya saat mengalami langsung diskriminasi gender di dalam keluarganya ikut mempengaruhi hal ini. Saparinah merefleksikan awal ketertarikannya sebagai berikut

Bagi saya, membaca buku Psychology of Women yang tadinya saya lakukan ‘out of curiosity’, telah membuka mata saya dari yang sebelumnya menganggap psikologi sebagai gender neutral menjadi psikolog yang lebih peka terhadap isu perbedaan gender.18

Setelah “menemukan” arti penting isu perempuan, Saparinah bersama rekan-rekan akademisi mendirikan Kajian Wanita UI. Dirinya memimpin institusi tersebut dari awal didirikan di tahun 1990, sampai 1998. Beruntunglah bagi Saparinah, karena dia memperoleh dukungan dari rekan-rekannya yang duduk dalam posisi struktural di UI dan pemerintahan. Dukungan mereka semua membuat dirinya berani menerima tantangan: mengembangkan kurikulum women’s studies di Indonesia. Hanyalah di Indonesia, dukungan penuh dari pihak universitas diberikan secara penuh pada pendirian program studi ini. Di negara lain, yang tersulit adalah meyakinkan pihak kampus tentang arti women’s studies dan tempatnya di tengah khazanah keilmuwanan.19 Bersama Prof. T.O Ihromi, Saparinah meletakkan dasar yang kuat pada bentuk kajian perempuan khas Indonesia sebagai salah satu kajian multidisiplin di tingkat pascasarjana. Mata kuliah “Psikologi Perempuan” adalah salah satu mata kuliah pilihan yang digagas dan diasuh oleh Saparinah Sadli. Walaupun sekarang, ia bukan lagi pengajar utama, ia masih mengajar untuk lima kali pertemuan.20

Mendirikan atau tepatnya merintis program kajian wanita di dekade terakhir masa kekuasaan Orde Baru bukanlah hal mudah, seperti dikisahkan Saparinah di bawah ini

Suatu pengalaman pribadi tentang perubahan yang terkait isu gender adalah ketika dalam tahun 1989 saya mendapat tugas mendirikan Program Studi Kajian Wanita, Program Pascasarjana Universitas Indonesia. Saat itu, istilah ”perempuan”, “gender” dan “feminisme” dalam era Orde Barumerupakan kata-kata yang tabu di lingkungan akademik. Di luar tembok akademik, kata-kata itu malahan belum dikenal. Suatu kondisi yang menyebabkan nama program studi harus “Kajian Wanita”,sesuai ketentuan formal yang berlaku. Dalammengintroduksi metodologi feminis yang merupakan salah satu metode penelitian yang harus dikuasai oleh para mahasiswa Kajian Wanita, saya masih bisa memilih “perspektif perempuan” sebagai jalan tengah memperkenalkan metodologi tersebut.Secara akademis pilihan tersebut mungkin perlu diperdebatkan. Tetapi dalam kondisi sosial politik yang berlaku saat itu, pilihan tersebut dapat lebih diterima. Apalagi karena saya diingatkan oleh seorang dosen senior saat peresmian Program Studi Kajian Wanita, untuk tidak membuat mahasiwa menjadi feminis. 21

Bahkan hingga dewasa ini, kontroversi atau kesalahpahaman masih menyelimuti hal-hal yang berkaitan dengan isu perempuan

Di Indonesia, isu-isu perempuan sampai saat ini malah masih dipandang sebagai “produk impor” dari Barat. Walaupun tak sekeras ketika awal kemunculannya di era 80-an, cara pikir ini seringkali dipandang sinis oleh kaum pria. Sebagian mengatakan, “Memangnya selama ini perempuan Indonesia didiskriminasi oleh laki-laki?” Atau tanggapan para perempuan sendiri yang menyangsikan, “Apakah betul kami teropresi?” Perempuan seringkali masih berada di simpang pendapat. Apakah mereka memang seharusnya melawan atas kungkungan patriarki, atau mereka sudah sewajarnya tunduk kepada laki-laki sebagai “pemimpin” atas segala hal.22

Saparinah Sadli juga sejak awal sampai saat ini membantu merumuskan dan mengembangkan berbagai program pada Kementerian Negara Pemberdayaan Perempuan. Salah satu produknya yang terkenal, Program Bina Keluarga dan Balita (BKB) yang adalah program nasional untuk ibu yang mempunyai anak di bawah usia lima tahun. Program yang diawali pada tahun 1980 itu kini diambil alih pengelolaannya oleh Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional, dan bahkan kabar terakhir, tidak lagi dilakukan.23 Bersama Dr. Mely G. Tan,24 ia juga menjadi Koordinator Pro­gram Pengembangan Karir Wanita Yayasan Ilmu-ilmu Sosial.

Meneguhkan Rasa Aman: Saparinah dan Tragedi Mei 1998

Kiprah Saparinah yang lebih luas dimulai akhir tahun 1996. Ia terpilih menjadi anggota Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) Subkomisi Pendidikan dan Penyuluhan. Saat itu Saparinah bertekad menjadikan sub komisi ini sebagai ujung tombak dalam menyiapkan individu maupun masyarakat luas untuk memahami dan menjalankan hak-hak asasi manusia.

Sisi aktivisme Saparinah dalam perjuangan menentang kekerasan terhadap perempuan memuncak setelah meletusnya Tragedi Mei 1998. Ketika itu mulai bermunculan kabar tentang adanya perkosaan terhadap perempuan etnis Tionghoa dan para aktivis perempuan merasakan urgensi untuk segera menindaklanjuti kabar tersebut. Saparinah memimpin 22 orang tokoh perempuan yang tergabung dalam Masyarakat Anti Kekerasan, menghadap Presiden BJ Habibie pada tanggal 15 Juli 1998 dan memaksa pemerintah meminta maaf atas kekerasan seksual yang dialami banyak perempuan di tengah kerusuhan itu.25

Di hari-hari yang menentukan tersebut, kharisma Saparinah terpancar jelas. Dirinya mampu menjadi magnet perekat bagi dua puluh dua tokoh perempuan tadi, yang datang dari berbagai latar belakang yang sangat berbeda, mulai dari aktivis, KOWANI hingga Dharma Wanita.26 Lalu ia bergabung dalam Tim Gabungan Pencari  Fakta (TGPF) kasus kerusuhan 13-15 Mei 1998 pada 23 Juli sampai 23 Oktober 1998. Bagi Saparinah, perkosaan sama dengan terorisme seksual.27 Jadi walaupun korbannya perempuan etnis Tionghoa atau etnis apa saja, mereka adalah korban kekerasan yang mesti dibelanya. Maka waktu itu sempat nampak pula poster bertuliskan “Ini bukan perkosaan amoy, ini perkosaan perempuan”.28 Di dalam menangani persoalan perkosaan ini, latar belakang Saparinah sebagai seorang psikolog ikut berperan penting, berbeda dengan cara-cara pihak lain, yang misalnya lebih menekankan bukti-bukti legalistik/positif.29

Tak lama kemudian, pada tanggal 15 Oktober 1998 Habibie membentuk Komisi Nasional Anti Kekerasan Terhadap Perempuan (KOMNAS Perempuan) dan Saparinah diangkat menjadi ketua pertamanya. Di dunia, inilah satu-satunya komisi nasional yang resmi lahir dengan nama “Anti Kekerasan Terhadap Perempuan”. Lembaga yang dalam perkembangannya sampai hari ini, selalu terdepan dalam menyuarakan pembelaan atas perempuan korban kekerasan, baik kekerasan yang cakupannya nasional, lokal atau bahkan privat, semisal KDRT.

Mengenang pengalamannya selaku Ketua Komnas Perempuan, Saparinah menyebut keterlibatannya terjadi secara tidak sengaja.

Menurut Saparinah, tragedi Mei 1998 adalah hal yang menyentuh hati. Ketika itu, banyak orang membuat pernyataan, tetapi tidak ada yang bertindak. Lalu, Saparinah sebagai bagian dari Masyarakat Antikekerasan terhadap Perempuan bersama teman-teman menuntut pemerintah meminta maaf terbuka atas tragedi Mei itu.


“Kami ketika itu sedang di Program Studi Kajian Wanita Universitas Indonesia, menyusun surat yang awalnya ingin kami tujukan kepada Panglima ABRI Jenderal Wiranto (ketika itu). Tetapi, di televisi kami melihat Wiranto mengeluarkan pernyataan yang membantah telah terjadi pemerkosaan massal. Saya lalu bilang pada Smita (Notosusanto, aktivis perempuan) supaya surat tuntutan permintaan maaf itu ditarik dan ganti dikirimkan kepada Presiden Habibie,” tutur Saparinah.

Awalnya, Presiden Habibie menolak apa yang disampaikan Masyarakat Anti-Kekerasan terhadap Perempuan bahwa telah terjadi pemerkosaan massal. Akhirnya dalam perdebatan yang berlangsung dua setengah jam itu, Habibie setuju membuat pernyataan bahwa telah terjadi kekerasan terhadap perempuan setelah dia teringat salah satu kerabat perempuannya juga bertutur hal yang sama. Dua minggu kemudian Komnas Perempuan dibentuk, dan Saparinah didaulat oleh berbagai pihak untuk memimpin lembaga tersebut.

“Pembentukan Komnas Perempuan adalah momen yang sangat bersejarah karena untuk pertama kalinya negara mengakui bahwa terjadi kekerasan terhadap perempuan dan kekerasan tersebut merupakan pelanggaran terhadap HAM,” kata Ibu Sap, panggilan akrab Saparinah Sadli.30

Merefleksikan makna huru-hara Mei 1998, tiga belas tahun kemudian Saparinah menulis

Saat itu diketahui bersama telah terjadi perkosaan massal terhadap sejumlah perempuan warga Indonesia keturunan etnik Tionghoa. Suatu peristiwa yang meskipun benar terjadi, tetapi oleh Pemerintah Indonesia hingga sekarang masih dikategorisasikan sebagai “dugaan”. Peristiwa kekerasan seksual ini menyebabkan kekerasan berbasis gender -yang telah ada sejak awal peradaban manusia- untuk pertama kalinya diangkat sebagai isu publik di Indonesia, suatu isu gender yang sampai sekarang tidak terselesaikan. 31

Sampai tahun 2004, orang masih mengingat ia ada di garis depan dalam perjuangan menggolkan affirmative action, kuota 30 persen perempuan di lembaga legislatif. Belum terhitung partisipasi aktifnya dalam berbagai forum konferensi internasional sebagai wakil ilmuwan feminis dari Indonesia.32 Menindaklanjuti ketidakjelasan kekerasan seksual terhadap perempuan dalam huru hara Mei 1998, pada tanggal 8 Mei 2007, Komnas Perempuan menunjuk Saparinah selaku Pelapor Khusus, yang lengkapnya dinamakan “Pelapor Khusus tentang Kekerasan Seksual Mei 1998 dan Dampaknya”. Dalam laporan berjudul Saatnya Meneguhkan Rasa Aman: Langkah Maju Pemenuhan Hak Perempuan Korban Kerkerasan Seksual Mei 1998, Saparinah dibantu seorang penerusnya di Komnas Perempuan, Andi Yentriyani.

Aktivitas Saparinah dan Komnas Perempuan ternyata mampu memberikan perasaan “tidak sendiri” pada perempuan golongan Tionghoa, seperti yang diungkapkan Saparinah dari hasil peluncuran laporan hasil dokumentasi Pelapor Khusus Komnas Perempuan tentang Kekerasan Seksual Mei 1998 tanggal 15 Mei 2008

Ada ungkapan seorang tamu, seorang perempuan Tionghoa, yang mengatakan bahwa apa yang dilakukan Komnas Perempuan telah menunjukkan bahwa mereka (sebagai perempuan Tionghoa) tidak sendirian dalam menghadapi dampak kerusuhan Mei 1998. Karena, sebelumnya ia merasa bahwa sebagai perempuan Tionghoa sepertinya mereka sendiri saja yang harus bergulat dengan masalah dan ingatan tentang kekerasan terhadap perempuan dalam kerusuhan Mei 1998. 33

Tepat sekali judul laporan yang disusun oleh Saparinah “Saatnya Meneguhkan Rasa Aman”. Perempuan, baik etnis Tionghoa, Jawa, Batak atau etnis apapun, mesti dilindungi dari ancaman perkosaan ataupun kekerasan seksual lainnya dan berhak mendapatkan rasa aman.

Mengutip pengandaian Ketua Pendiri Yayasan Nabil, Eddie Lembong, bangsa Indonesia ibarat sebuah rantai besar dan kokoh yang disatukan mata rantai, yakni suku-suku bangsa. Kekuatan sebuah rantai ditentukan oleh semua mata rantai itu. Integrasi antara kaum Tionghoa dan pribumi bisa menjadi mata rantai yang lemah jika tidak berjalan dengan benar.34 Maka dari sudut kebangsaan, aksi humaniter yang dilakukan Saparinah bersama kawan-kawan upaya memperkuat “mata rantai lemah” dalam nation building kita, yakni menggandeng etnis Tionghoa sebagai sesama elemen bangsa yang sederajat dan setara, tanpa adanya sekat-sekat pembedaan. Seperti pengakuan seorang perempuan Tionghoa dalam kutipan di atas tadi, dia merasa memiliki saudara, tidak sendirian. Lebih jauh lagi, aksi kemanusiaan Ibu Sap dan kawan-kawan di saat mendung meliputi Indonesia, diharapkan mampu membukakan mata orang-orang Tionghoa, bahwa masih banyak orang yang baik, daripada yang buruk.

Penutup: Sang Manusia “Becoming

Kesaksian rekan dan murid Ibu Sap menunjukkan kekaguman Ibu Sap pada teori “becoming” dari psikolog AS, Gordon W. Allport. Secara ringkas istilah “becoming” mengacu pada keyakinan psikologi humanistik bahwa manusia adalah mahluk yang terus menjadi. Manusia sesungguhnya tidak pernah berhenti berkembang dan hanya berhenti berkembang bila ia tidak lagi hidup. Namun dalam kenyatan hidup sehari-hari, sulit menemukan orang yang “terus menjadi” seperti itu. Saparinah adalah salah satu dari sedikit orang yang mampu terus mengaktualisasi diri.35 Seorang rekannya mengelaborasi perjalanan karir “becoming” Saparinah yang berwarna-warni: “Dari studi apoteker, kemudian mendalami psikologi, lalu psikologi sosial klinis dengan minat pada masalah-masalah atribusi dan persepsi. Lalu terakhir, minat Kajian Wanita”.36 Deretan aktivitas Saparinah ini masih ditambah dengan keingintahuannya dan minat yang timbul saat bersentuhan dengan hal-hal keilmuan (misal: post-modernisme) atau teknologi yang baru (seperti internet, facebook, twitter, dll). Saparinah tidak malu mengakui kalau dia tidak memahami sesuatu topik dan tidak segan bertanya kepada mereka yang jauh lebih muda.37

Mereka yang mengenal Saparinah dari dekat memberikan predikat: “pendengar yang baik–jeli–pemberi jalan keluar–tegas dan bagaikan oase”,38 “sumber inspirasi—bagaikan jembatan dan inklusif”,39 “ikon keberagaman– sumber inspirasi dan sadar akan pentingnya kaderisasi”40 Sebagai penutup, dikutipkan disini tulisan penerusnya, Kristi Poerwandari, selaku Ketua Program Studi Kajian Gender Program Pascasarjana UI yang berusaha mendeskripsikan dengan singkat figur seorang Saparinah Sadli

Beliau adalah akademisi yang sesungguhnya, yang tidak pernah berhenti berpikir, tidak merasa lebih tahu, paham bahwa belajar itu seringkali berarti belajar dari orang atau pihak-pihak yang dianggap lebih tidak mengerti atau lebih rendah. Bukankah kita belajar banyak dari orang miskin, perempuan yang terperangkap KDRT, buruh yang hidup dengan upah di bawah UMR, kelompok minoritas yang sangat direndahkan tetapi mungkin punya kearifan luar biasa. Ia juga tidak mau berhenti, dan selalu mau memastikan bahwa ilmu itu ada manfaatnya buat dunia nyata. Ilmu bukan kompleksitas teori yang bertakik-takik sedemikian rumitnya, tetapi tidak dapat diejawantahkan untuk membantu menyejahterakan manusia. Bukan menara gading dan untuk keuntungan diri sendiri. Beroleh nama, jabatan, gelar atau kekuasaan.41

Sumbangsih Saparinah di dalam disiplin ilmu psikologi dan kajian gender yang memberikan pencerahan pada masyarakat luas, aktivitasnya yang inklusif serta keteladanan yang ditunjukkannya selaku pejuang kemanusiaan layak untuk kita apresiasi. Saparinah adalah seorang nation builder di bidang gender dan pejuang kemanusiaan yang tidak kenal lelah.

Untuk itu, Nabil Award 2011 diberikan kepadanya. SELAMAT!

Jakarta, 15 September 2011

***

1Sejarawan dan Staf Yayasan Nabil. Penulis mengucapkan terimakasih kepada Saparinah Sadli, Carla Bianpoen, Kamala Chandrakirana, Smita Notosusanto dan Andi Yentriani atas informasi dan masukan mereka. Ucapan terimakasih khusus ditujukan kepada Imelda Bachtiar, atas jerih payahnya memberi koreksi dan masukan serta menyuplai berbagai bahan, termasuk diantaranya naskah berjudul “Saparinah Sadli: Dari Farmasi ke Kajian Gender” yang sangat membantu penulisan tesis ini .

2Maria Hartiningsih dan Ninuk Mardiana Pambudy, “Saparinah Sadli selalu dalam Proses Menjadi”, Kompas, 25 Juni 2009.

3 Latar belakang anugerah tersebut adalah sebagai berikut. Di tahun 2002 Carla Bianpoen dan beberapa perempuan aktivis merasa sedih, karena tidak ada award dari dan untuk perempuan. Dari sinilah maka lahir Saparinah Sadli Award. Poin pentingnya adalah, dan selalu juga ditekankan Saparinah dalam setiap wawancara, award ini bukan gagasan beliau, termasuk juga uang hadiah bukan berasal darinya. Gagasan berasal dari para perempuan aktivis lain yang lebih muda, yang terinspirasi oleh apa yang dilakukannya. Mereka mengumpulkan dana penyelenggaraan dari berbagai sponsor, perusahaan atau individu yang bersimpati pada gerakan perempuan Indonesia, utamanya di akar rumput.

Anugerah Saparinah Sadli resminya diluncurkan sebagai suatu “surprise” bagi Saparinah pada HUT-nya yang ke-75 tanggal 24 Agustus 2002. Namun pemberian anugerah pertama baru terlaksana baru diberikan dua tahun kemudian. Hingga tahun 2010 sudah ada empat orang yang menerima award tersebut. Lihat Carla Bianpoen, “Anugerah Saparinah Sadli: Bermulanya suatu Anugerah dari Perempuan untuk Perempuan”, dalam Imelda Bachtiar (ed), Mereka dan Saparinah Sadli:Kumpulan Tulisan Media Massa dan Kesan Para Sahabat. Cetakan Kedua (Jakarta: Panitia Anugerah Saparinah Sadli, 2010), h.xiii-xiv

4 “Sapadriah [Saparinah!] Sadli”, dalam Ensiklopedi Jakarta: Budaya & Warisan Sejarah,http://www.jakarta.go.id/jakv1/encyclopedia/detail/2711 (diakses 13 Juli 2011). Kenang-kenangan Saparinah atas masa lalunya ada dalam kontribusinya “Memilih sambil Berjalan”, dalam St. Sularto (ed), Guru-guru Keluhuran: Rekaman Monumental Mimpi Anak Tiga Zaman (Jakarta: Kompas, 2010), h. 312-324.

5 Saparinah Sadli, “Memilih sambil Berjalan”, dalam St. Sularto (ed), Guru-guru Keluhuran, h.215.

6 Saparinah Sadli, “Memilih sambil Berjalan”, dalam St. Sularto (ed), Guru-guru Keluhuran, h.219-220.

7 “Saparinah Sadli” dalam Saparinah Sadli dan Lilly Dhakidae (ed), Perempuan dan Ilmu Pengetahuan (Jakarta: YIIS, 1990), h.199.

8 Saparinah Sadli, “Memilih sambil Berjalan”, dalam St. Sularto (ed), Guru-guru Keluhuran, h.221.

9 “Mohammad Sadli: Ekonom Senior Orde Baru”, dalam http://www.tokohindonesia.com/biografi/article/285-ensiklopedi/2239-ekonom-senior-orde-baru (diakses 2 September 2011).

10 “Saparinah Sadli” dalam Perempuan dan Ilmu Pengetahuan, h.197.

11 Diterbitkan sebagai Persepsi Sosial Mengenai Perilaku Menyimpang (Jakarta: Bulan Bintang, 1977).

12 “Saparinah Sadli” dalam Perempuan dan Ilmu Pengetahuan, h.197, 199.

13 Daftar karya tulis selektif Saparinah dapat dilihat dalam bagian lain di buku acara Nabil Award 2011 ini.

14 Nafsiah Mboi, “Prof. Dr. Saparinah Sadli: Pejuang bagi Wanita, Pelaku dalam Pembangunan Bangsa”, dalam Smita Notosusanto dan E. Kristi Poerwandari (ed), Perempuan dan Pemberdayaan: Kumpulan Karangan untuk Menghormati Ulang Tahun ke-70 Ibu Saparinah Sadli (Jakarta: Program Studi Kajian Wanita, Program Pasca Sarjana, Universitas Indonesia bekerja sama dengan harian Kompas dan Penerbit Obor, 1997), h. xvi-xvii.

15 Imelda Bachtiar, “Pengantar Penyunting: Dari Pertemuan 13 Tahun yang Lalu”, dalam Saparinah Sadli, Berbeda tetapi Setara: Pemikiran tentang Kajian Perempuan. Penyunting: Imelda Bachtiar (Jakarta: Penerbit Buku Kompas, 2010) , h. xvi.

16 Saparinah Sadli, “Sekapur Sirih: Membumikan Psikologi Perempuan di Indonesia” dalam Psikologi Perempuan: Pendekatan Kontekstual Indonesia. Editor: Nani Nurrachman dan Imelda Bachtiar. (Jakarta: Penerbit Universitas Atma Jaya, 2011), h.1.

17 Imelda Bachtiar, Saparinah Sadli: Dari Farmasi ke Kajian Gender” (naskah, 2011), h. 1-2.

18 Saparinah Sadli, “Sekapur Sirih: Membumikan Psikologi Perempuan di Indonesia”, h. 2.

19 Prof. Dr. dr. Farid Anfasa Moeloek, “Kajian Wanita UI adalah Pusat Data bagi Studi Perempuan Indonesia”, dalam Imelda Bachtiar (ed), Mereka dan Saparinah Sadli, h.117.

20 Imelda Bachtiar, “Pengantar Penyunting: Dari Pertemuan 13 Tahun yang Lalu”, dalam Saparinah Sadli, Berbeda tetapi Setara, h.xv.

21 Saparinah Sadli, “Membangun Bangsa: Mewujudkan Kemanusiaan yang Adil Gender dan Beradab”, Pidato Penerimaan Nabil Award 2011. Lebih lanjut soal Kajian Wanita ini, lihat Saparinah Sadli, “Feminism in Indonesia in an International Context”, dalam Kathryn Robinson dan Sharon Bessell (ed), Women in Indonesia: Gender, Equity and Development (Singapore: ISEAS, 2002), h, 80-91.

22 Imelda Bachtiar, “Pengantar Penyunting: Dari Pertemuan 13 Tahun yang Lalu”, dalam Saparinah Sadli, Berbeda tetapi Setara, h.xiv.

23 Imelda Bachtiar, Saparinah Sadli: Dari Farmasi ke Kajian Gender” (naskah, 2011), h.1-2.

24Sosiolog perempuan Indonesia terkemuka, salah satu pemenang Nabil Award 2009.

25 Mengenai aktivitas politik kelompok-kelompok perempuan menjelang runtuhnya Orde Baru dan di awal-awal masa Reformasi, lihat Carla Bianpoen, “Women’s Political Call” dalam Mayling Oey-Gardiner dan Carla Bianpoen (ed), Indonesian Women: The Journey Continues (Canberra: RSPAS ANU, 2000), h. 283-302.

26 Wawancara Kamala Chandrakirana, 18 April 2011, Smita Notosusanto 26 April 2011; Carla Bianpoen 13 Mei 2011.

27 Saparinah Sadli, “Pemerkosaan telah Menjadi Terorisme Seksual”, dalam Imelda Bachtiar (ed), Mereka dan Saparinah Sadli, h. 1-14.

28 “Pangab Digugat Kaum Perempuan Soal Perkosaan”, http://www.minihub.org/siarlist/msg00350.html (diakses 9 Juli 2011).

29 Lihat tulisan Saparinah “Korban Kerusuhan Mei 1998: Antara Ada dan Tiada”, dalam Saparinah Sadli, Berbeda tetapi Setara, h. 114-117, serta Saparinah Sadli dan Andi Yentriyani, Laporan Hasil Dokumentasi Pelapor Khusus Komnas Perempuan tentang Kekerasan Seksual Mei 1998 dan Dampaknya ”Saatnya Meneguhkan Rasa Aman: Langkah Maju Pemenuhan Hak Perempuan Korban Kerkerasan Seksual Mei 1998” (Jakarta: Komnas Perempuan, 2008).

30 “Prof Dr Saparinah Sadli Pejuang Tanpa Pengkotakan Politik”, http://www.tokoh-indonesia.com/ensiklopedi/s/saparinah-sadli/biografi/01.shtml (diakses 14 September 2011).

31 Saparinah Sadli, “Membangun Bangsa: Mewujudkan Kemanusiaan yang Adil Gender dan Beradab”, Pidato Penerimaan Nabil Award 2011.

32 Imelda Bachtiar, Saparinah Sadli: Dari Farmasi ke Kajian Gender” (naskah, 2011), h.4.

33 Saparinah Sadli, “Kata Pengantar Pelapor Khusus”, dalam Laporan Hasil Dokumentasi Pelapor Khusus Komnas Perempuan tentang Kekerasan Seksual Mei 1998 dan Dampaknya ”Saatnya Meneguhkan Rasa Aman: Langkah Maju Pemenuhan Hak Perempuan Korban Kerkerasan Seksual Mei 1998”, h.xii. Cetak miring ditambahkan penulis (DK).

34Kompas, 11 November 2009.

35 E. Kristi Poerwandari, “Ibu Sap: The ‘Becoming’ Person”, dalam Perempuan dan Pemberdayaan, h.469, lihat juga dari penulis yang sama, “Prolog: Manusia yang ‘Becoming’, Perempuan yang ‘Becoming’, dalam Saparinah Sadli, Berbeda tetapi Setara, h. xxi-xxv.

36 Nani Nurrachman, “Women’s Psychology dan Ibu Sadli”, dalam Imelda Bachtiar (ed), Mereka dan Saparinah Sadli, h.168.

37 Kristi Poerwandari, “Ibu Sap: The ‘Becoming’ Person”, dalam Perempuan dan Pemberdayaan, h.469-70 wawancara Andi Yentriyani 28 April 2011.

38 Wawancara Kamala Chandrakirana, 18 April 2011.

39 Wawancara Smita Notosusanto, 26 April 2011. Carla Bianpoen juga menyebutnya bagaikan “jembatan”, wawancara 13 Mei 2011.

40 Wawancara Andi Yentriyani, 28 April 2011.

41 Kristi Poerwandari, “Prolog: Manusia yang ‘Becoming’, Perempuan yang ‘Becoming’, dalam Saparinah Sadli, Berbeda tetapi Setara, h.xxiii.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: