RESENSI BUKU: Tempurung

Judul Novel : Tempurung

Penulis : Oka Rusmini

Tebal Halaman : 459 halaman

Penerbit : Grasindo, 2010

 

Oleh : Kendar Umi Kulsum

 

Bicara tentang perempuan akan selalu menjadi topik yang menarik. Entah dari sudut pandang manapun perempuan adalah subyek sekaligus obyek diskusi maupun pergunjingan yang tidak akan habis. Apalagi jika bicara tentang seksualitas perempuan, topik selalu menjadi wacana dengan beragam perspektif baik itu agama, sosial atau pun akademis.

Perbincangan tentang perempuan melampaui seluruh diskursus itu yang dikisahkan oleh Oka Rusmini dalam novelnya berjudul Tempurung. Penulis membicarakan seluruh persoalan yang dihadapi oleh perempuan, baik itu agama, budaya dan tradisi. Penulis sangat jeli dan kritis melihat persoalan yang paling mendera perempuan, yaitu tubuhnya. Tubuh, terutama tubuh perempuan adalah sasaran utama dari sebuah kekuasaan, dan dari tubuh- tubuh itulah persoalan perempuan bermula.

Kisah novel ini diawali dengan cerita narator sebagai tokoh yang bercerita tentang dirinya sendiri maupun tokoh – tokoh lain dalam novel ini. Adalah tokoh Aku seorang perempuan penulis dengan satu anak bersama suaminya yang juga penulis. Dia mengisahkan perempuan – perempuan lain dengan saling menjalin satu sama lain, meski bukan merupakan hubungan sebab akibat.

Adalah Kecombrang, bunga yang dipersonifikasi sebagai liar, eksotis dan seksi. Anatomi Kecombrang yang seperti lingga dengan kelopak dan batangnya yang keras mampu melambungkan imajinasi perempuan. Personifikasi akan Kecombrang menunjukkan keliaran imajinasi penulis sekaligus kritis melihat suatu fenomena. Kesan itu sangat terlihat dalam seluruh bagian novel ini. “Aku berpikir tentang tubuhku, maka aku ada”, adalah tulisan Simone de Beauvoir seorang feminis Perancis. Seperti ungkapan penulis tentang perempuan, “Kadang aku berpikir, perempuan tak hanya perlu genit, kadang harus sedikit seronok, sedikit nakal dan berani. Bukankah tubuh mereka adalah rajutan keindahan sejati?” (hl : 3). Oka telah menerabas tabu tentang tubuh perempuan, dia tidak patuh pada pandangan dominan bahwa tubuh perempuan harus diatur sesuai kultural dan dogma agama.

Kisah dalam novel ini berisi berbagai karakter dan tokoh yang masing-masing memiliki persoalan hidup sendiri dan tidak selalu berkaitan satu dengan lainnnya. Yang terjadi hanyalah pertemuan atau pertalian yang tidak sengaja antara satu dengan lainnya hingga seperti potongan gambar yang bertemu. Puzzle tentang perempuan! Mungkin ini kata yang paling tepat untuk menggambarkan kisah beberapa perempuan dalam novel itu.

Persoalan seksualitas menjadikan tubuh perempuan seperti terpenjara oleh berbagai aturan budaya dan stereotip pandangan dominan. Kenyataan itu membuat perempuan asing dengan tubuhnya sendiri. Kekerasan yang terjadi pada seorang perempuan kadang melahirkan sebuah kekerasan baru, rantai kekerasan seperti berpola dan menimbulkan korban lain. Dalam hal ini budaya patriarki menjadi palu godam kekerasan bagi perempuan, penulis mengisahkannya dengan kuat dan tajam.

Oka sangat kritis menampilkan budaya masyarakat Bali, tidak sekedar memaparkan saja juga menampilkan benturan kepentingan dan hasrat serta mimpi individu. Ini menunjukkan Oka mampu menjaga jarak dengan tradisi dan kebudyaan tempat dia dilahirkan dan dibesarkan. Sebagai keturunan Ida Ayu, tidak membuat Oka terhanyut dengan status sosial dan berbagai keramahan tradisi pada darahnya.

Persoalan perempuan tidak mengenal kasta, demikian kisah Oka Rusmini. Meski tidak dipungkiri perempuan dari kasta rendah lah yang paling menderita. Seperti kisah Songi yang dijadikan pelacur oleh Rimpig ibunya sendiri agar mereka lepas dari kemiskinan. Songi hanya menjalani garis kehidupannya tanpa berbicara, bahkan ketika sang suami menghabiskan seluruh harta untuk berfoya-foya hingga dia jatuh miskin kembali. Tanpa ada penghargaan, sang suami justru memaki dan menyalahkan Songi karena pernah menjadi pelacur.

Pandangan dominan masyarakat cenderung bersifat patriarkal dan membenci perempuan, bahkan memarjinalkan perempuan. Nasib inilah yang terjadi pada tokoh Sipleg, Songi dan Ni Luh Wayan Rimpig. Meski Rimpig mencoba bangkit dan melawan dominasi komunitasnya dengan caranya sendiri, yaitu melacurkan anaknya! Dalam hal ini Oka mampu mengeksplorasi kemiskinan menjadi kisah yang kuat dan memilukan. Karakter tokoh-tokoh yang diam seolah membisu adalah salah bentuk protes dan pemberontakan ketiga tokoh di atas pada masyarakatnya.

Perkawinan tidak selalu melahirkan kebahagiaan! Demikian kisah Oka. Hal itu pun dapat menimpa semua perempuan dari berbagai kelas sosial. Ini ditampilkan Oka melalui tokoh Rosa, yang berdarah Bali dan Perancis. Ayah yang dingin dan ibu seorang intelektual yang selalu menjaga dan bahwa perkawinan mereka harmonis. Sedemikian kuatnya ibu menjaga martabat keluarga agar tampak harmonis membuat Rosa gamang akan arti perkawinan.

Selain perempuan yang nyaris tidak berdaya kecuali menyimpan dendam, sosok Bu Barla pemilik warung menampilkan ketabahan. Bu Barla adalah perempuan mandiri penuh semangat yang bekerja keras demi kedua anaknya. Tetap menghargai suami meski sang suami hanyalah benalu, “Tiang (saya) tidak ingin anak-anak tahu bahwa ayahnya tidak dapat dibanggakan”, demikian ujar Bu Barla. Bagian kisah Bu Barla inilah yang dialami oleh banyak perempuan dalam perkawinannya. Perempuan akan selalu tampil kuat demi anak-anak dan mengabaikan peran suami

Penulis mencoba jujur melihat realitas perempuan di Indonesia, Seperti komentar narator cerita, “ Aku melakukan ritual bagi diri sendiri sebelum aku melakukan tugas perempuanku : menjadi ibu, menjadi koki, menjadi pembantu (memasak, memandikan anak, memyiapkan ini-itu dan membersihkan rumah), menjadi buruh ditempat kerja, kadang menjadi pelacur untuk suamiku (hl :4).

Ketika berbicara tentang novelnya yang kritis pada mitos dan tradisi Bali, Oka hanya menjawab, “Saya ingin mendokumentasikan budaya Bali agar tidak dilupakan orang”. Inilah kisah perempuan Bali versi Oka Rusmini. Dia mengetengahkan identitas dan posisi tawar perempuan dalam lingkungan yang sangat patriarki. Dan mempertanyakan kembali stigma seksualitas perempuan dalam masyarakatnya.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: