Menjelang Konferensi 20 Tahun Kajian Wanita Universitas Indonesia “Hukum dan Penghukuman” (1):

Dua Puluh Tahun Perjalanan Kajian Wanita Universitas Indonesia, Berbagi Pengetahuan dari Perempuan

Imelda Bachtiar

Program Studi Kajian Wanita (Kajian Gender) di bawah Program Pascasarjana Universitas Indonesia (selanjutnya disebut Kajian Wanita) diresmikan dengan Keputusan Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi, Departemen Pendidikan dan Kebudavaan Republik Indonesia, no 24/DIKTI/Kep/1994, 28 Januari 1994, ditandatangani Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi, Bambang Soehendro. Kajian Perempuan, yang secara internasional dikenal sebagai Women’s Studies, merupakan suatu bentuk kajian yang relatif baru, menggunakan kerangka berpikir kritikal dalam paradigma ilmu-ilmu sosial. Di Indonesia sendiri, kajian perempuan di universitas baru berkembang tahun 1990.

Pendiriannya secara resmi pada November 1990, dilakukan secara kolektif oleh beberapa orang profesor dan pengajar senior di lingkungan Universitas Indonesia yang menyadari pesatnya perkembangan kajian perempuan dalam keilmuwan dan sosial kemasyarakatan. Beberapa pendirinya adalah Prof. Dr. Saparinah Sadli, Gurubesar Psikologi yang menjadi ketua program sampai tahun 2000. Lalu ada Prof. Sujudi yang saat itu menjabat sebagai Rektor UI, Prof. Dr. T.O. Ihromi, Gurubesar Antropologi Hukum, Prof. Dr. dr. Farid A. Moeloek dari Fakultas Kedokteran dan Prof. Harsja Bachtiar, Guru Besar Sosiologi.

Kajian Wanita Universitas Indonesia adalah pendidikan magister pertama yang selama 10 tahun sejak berdirinya masih merupakan program pendidikan magister kajian perempuan dan gender satu-satunya di Indonesia. Kemudian berdiri pula program studi Kajian Wanita di Universitas Hassanuddin. Kajian perempuan dan gender juga memiliki ciri khusus, yang berbeda dengan bidang-bidang ilmu lain yang mapan, yakni kritis dan diarahkan pada upaya pemampuan masyarakat, khususnya perempuan.

Acara yang mengawali rangkaian Peringatan 20 Tahun Kajian Wanita Universitas Indonesia adalah diskusi bertema “Perempuan dan Penghapusan Kemiskinan: Telaah psikobudaya dan pembelajaran Grameen Bank” pada 8 Maret 2010 dengan pembicara Nani Zulminarni dan Kristi Poerwandari. Dilanjutkan dengan peluncuran buku Berbeda tetapi Setara, Pemikiran tentang Kajian Perempuan-Saparinah Sadli pada 21 April 2010. di Buku yang berisi kumpulan tulisan Saparinah Sadli dari tahun 1984 sampai 2009 ini, tidak disengaja muncul sebagai peta permasalahan isu perempuan di Indonesia dalam 25 tahun terakhir.

Dalam pengantar acara, seperti juga yang ditulis dalam bukunya, Saparinah Sadli mengingat masa awal pendirian Program Studi Kajian Wanita di Universitas Indonesia, sangat unik dan berbeda dengan pendirian program studi sejenis di luar negeri. ”Program studi ini justru didirikan atas gagasan Rektor UI saat itu, almarhum Prof. Sujudi. Beliau merasa perlu mendirikan kajian ini karena isu gender masih dianggap tabu dan terlalu kebarat-baratan pada 20 tahun yang lalu,” kata Saparinah. Ia melanjutkan, bahkan Menteri Peranan Wanita pada saat itu mengaku kesulitan menyosialisasikan isu gender.

Selanjutnya Kajian Wanita UI mengadakan seminar ”Pendidikan Adil Gender Membangun Pengetahuan Perempuan” pada 17 Mei 2010 dimana seluruh pembicara adalah alumni Kajian Wanita UI. Diikuti pada 28 Juni 2010 dengan seminar dan peluncuran buku berjudul Aspek Psikologi dalam Penanganan Hukum Kasus Kekerasan dalam Rumah Tangga yang ditulis Kristi Poerwandari dan Ester Lianawati, keduanya alumni Kajian Wanita.

Tujuan dan Ciri Khas Studi Perempuan dalam Khasanah Keilmuwan
Ciri utama pProgram studi wanita di lingku­ngan universitas adalah menjadikan pengalaman perem­puan sebagai bagian dari pengetahuan akademis. Pengetahuan akademis yang berbasi penelitian, hingga saat ini masih lebih dikuasai oleh pengalaman dan data riset yang berasal dari kaum lelaki. Artinya, paradigma yang digunakan adalah paradigma yang maskulin.

Pengalaman perempuan sebagai sumber data utama penelitian, dianggap penting supaya ilmu pengetahuan tidak hanya menjadi generalisasi dari data yang topik-topik penelitiannya ditentukan oleh kaum laki-laki, yang sampelnya (dalam ilmu-ilmu sosial) kebanyakan terdiri dari laki-laki, dan interpretasi data yang juga lebih dilakukan dengan kacamata laki-laki. Kecenderungan ini mengakibatkan peng­alaman yang khas perempuan, tidak dianggap cukup penting sebagai topik penelitian oleh mimpara peneliti lelaki. Studi wanita, dengan demikian, dapat dikatakan mempunyai tujuan ganda, yakni memahami perempuan (pengalaman, kondisi hidup, dan sebagainya) atas dasar metode pengumpulan data yang ilmiah, serta memperkaya dunia ilmu pengetahuan dengan menggeser fokus pene­litian dari yang bersifat androsentris ke arah kerangka berpikir yang mengakui bahwa pengalaman, ide, dan kebutuhan kaum perempuan juga sahih untuk diteliti dan dijadikan dasar untuk mengajar. (Studi Wanita Pengembangan dan Tantangannya, Saparinah Sadli, Berbeda tetapi Setara, 2010, hal 70)

Studi wanita juga memiliki tiga ciri khas yang kemudian membedakannya secara jelas dari kegiatan-kegiatan ilmiah atau akademik lainnya. Ketiga ciri pokok itu ialah:

  1. Kajiannya terpusat pada perempuan, artinya kegiatan studi wanita memberi kesempatan pada perempuan untuk belajar tentang dirinya sendiri, berdasarkan suatu metode ilmiah dalam lingkungan universitas. Ini tercermin dari susunan kurikulum program studi kajian wanita.
  2. Pendekatannya multidisipliner. Pendekatan tersebut memang diperlukan karena untuk mempelajari tentang perempuan kita selalu dituntut untuk melampaui batas-batas khusus dari suatu disiplin ilmiah tertentu seperti ilmu sejarah, biologi, antropologi kesehatan, ilmu politik, sosiologi, sastra dan sebagainya. Setiap masalah harus ditinjau dari berbagai macam disiplin ilmiah, karena masalah dan penghayatan perempuan tidak cukup untuk dapat dimengerti hanya berdasarkan satu disiplin ilmu tertentu saja. Jadi ringkasnya, berbagai macam teori dan disiplin ilmu yang berbeda memang diperlukan. Masalah yang hendak diteliti adalah yang berasal dari masya­rakat (pendekatannya bersifat problem oriented) dengan tujuan untuk dapat mengatasinya berdasarkan data empirik yang dihimpun secara ilmiah (mementingkan problem solving approach). Contohnya adalah masalah bagaimana meningkatkan peranan kaum perempuan, karena ada kecenderungan inferioritas kaum perempuan terhadap laki-laki. Berdasarkan data empirik, dapat disusun tindakan atau program apa yang paling perlu dibuat, agar masalah dapat segera diatasi secara efektif. Juga yang terpenting, agar sesuai dengan kebutuhan kelompok sasaran, yakni kaum perempuan itu sendiri.
  3. Orientasinya mengarah kepada kepentingan konkrit dan ‘strategis’. Artinya, studi perempuan tidak hanya bertujuan untuk menghimpun data ilmiah tentang pengalaman perempuan. Wawasan yang diperoleh melalui kegiatan akademis tentang perempuan, berikut segenap permasalahannya juga diperlukan. Tujuannya untuk mengadakan identifikasi masalah, agar strategi dan program yang diperlukan dapat disusun secara tepat dalam rangka mengatasi masalahnya secara konkrit.

Dengan demikian hasil penelitian studi tentang wanita memang diharapkan akan menyediakan pengetahuan ilmiah dan suatu perspektif berdasarkan data empirik; misalnya saja bagaimana caranya meningkatkan kesesuaian antara kebutuhan kaum perem­puan dalam kehidupan sehari-hari dengan nilai-nilai dan norma masyarakat yang berlaku. Lalu, seandainya ada hal-hal tertentu yang harus diubah, maka apa sajakah yang memang perlu diubah dan bagaimana cara mengubahnya? (Studi Wanita Pengembangan dan Tantangannya, Saparinah Sadli, Berbeda tetapi Setara, 2010, hal. 71).

 

Dari CEDAW sampai Pengarusutamaan Gender (Inpres no. 9/2000) dan Penyusunan Rencana dan Anggaran menggunakan Analisa Gender (Kepmenkeu no. 119/2009)

Ketika kemudian pertanyaannya sampai ke tingkat empirik, apa kebermaknaan kajian ini dalam kerangka yang lebih besar. Penjelasannya dapat dibaca jika kita mengunduh situs resmi Kajian Wanita (Kajian Gender) Universitas Indonesia. Dengan gamblang dijelaskan relasi kajian ini dengan pengambilan keputusan di tingkat internasional dan nasional, serta implementasinya di lapangan.

Dunia Internasional melalui Perserikatan Bangsa-bangsa telah menelurkan kebijakan dan dokumen-dokumen berbeda yang berkelanjutan untuk upaya penguatan perempuan dan terciptanya masyarakat adil gender. Instrumen hukum yang sangat kuat adalah Convention on the Elimination of All Forms of Discrimination Against Women (CEDAW) yang telah diratifikasi melalui UU no 7/1984. Sementara itu kebijakan terakhir yang sering disebut adalah ICPD di Kairo (1994) dan Konferensi Perempuan di Beijing (1995) dengan 12 area kepeduliannva. Mengawali milenium baru, Perserikatan Bangsa-bangsa menelurkan Millennium Development Goal (MDG), yang hanva dapat tercapai bila kebutuhan dan kepentingan kelompok perempuan memperoleh fokus perhatian. Sementara itu, secara nasional juga telah dilakukan langkah-langkah mulai dari Kebijakan Pengarusutamaan Gender (Inpres no 9/2000) sampai Kepmenkeu no 119 tahun 2009 yang mensyaratkan agar dalam penyusunan rencana dan anggaran menggunakan analisa gender.

Meski demikian, kenyataan hidup sehari-hari masih memperlihatkan betapa perempuan sebagai individu dan kelompok menghadapi masalah khusus terkait dengan peran gender yang dilekatkan kepadanya. Karakteristik dan kepentingan laki-laki tidak jarang dijadikan ‘standar’ bagi karakteristik dan kepentingan manusia pada umumnya, sementara perempuan dianggap ‘lain’ atau `berbeda’. Implikasinya, perempuan kemudian mengalami bentuk-bentuk diskriminasi dalam keluarga, di sektor publik/kemasyarakatan dan dalam berbagai kebijakan institusional, lokal, nasional bahkan internasional. Dalam sejarah dan budaya-budaya lokal perempuan sering hilang, dipinggirkan, ataupun bila ada, memperoleh konotasi inferior, kurang bernilai, tak memiliki otoritas, sekadar pelengkap. (lihat situs resmi Program Studi Kajian Wanita Universitas Indonesia).

Dari statistik, terlihat bahwa perempuan masih terhambat untuk berpartisipasi aktif dalam politik dan proses pengambilan keputusan, kekerasan berbasis gender masih terus meningkat, kondisi kesehatan reproduksi yang masih rendah, yang salah satu contohnya adalah masih sangat tingginya Angka Kematian Ibu, yakni 307/100.000 (SDKI, 2003). Sementara itu, di tengah situasi dan peta sosial-politik-ekonomi yang bergerak dinamis di masa kini, perempuan terperangkap menjadi objek kekuatan besar seperti kapitalisme/ materialisme dan patriarki.

Simpulannya, di satu sisi kajian perempuan dan gender merupakan gerakan politis yang niscaya diperlukan untuk memberikan tempat yang adil bagi perempuan dalam kehidupan bermasyarakat kita. Mengingat dari sisi kebijakan masih hanvak diperlukan pembenahan, dengan sendirinya, ada persoalan-persoalan mendasar pula yang perlu dicermati dalam kehidupan sehari-hari perempuan. Penguatan praktis perlu dilakukan di hanyak bidang, seperti dalam bidang pendidikan, kesehatan, income generating activities bagi kelompok miskin atau tak berakses, perhatian khusus pada penyintas kekerasan berbasis gender, dan lain sebagainya.

Semua uraian isu di atas juga menjelaskan kompleksitas isu perempuan dan relasi gender, yang memerlukan telaah dan penelitian mendalam yang sistematis, metodis dan terpercaya untuk memetakan masalah dan upaya-­upaya penanggulangan masalah. Dengan demikian ditemukan what, why, dan how — dapat dikembangkan penjelasan teoretis yang kuat untuk memahami permasalahan sekaligus merekomendasi upaya perbaikan, penanggulangan dan prevensi. Di sini letak perlunya kajian perempuan dan gender di tingkat universitas.

Dalam pencapaian kajian akademik, usia dua puluh tahun bukan waktu yang singkat, tetapi juga bukan waktu yang cukup panjang untuk menjawab semua persoalan ini. Perjalanan ini memang bukan awal, tetapi akan masih terus berlangsung, seperti terus berlangsungnya perjuangan kita menghapuskan ketimpangan dan kekerasan berbasis gender yang terjadi dalam relasi sosial kemasyarakatan antara laki-laki dan perempuan. Ini sebuah kerja transformasi sosial yang tidak mudah. Tetapi dengan keikutsertaan semua orang, lelaki-perempuan, pemerintah-aktivis, praktisi media-akademisi, dan unsur lainnya, kita akan selalu maju ke depan.

Selamat atas usia ke-20, Program Studi Kajian Wanita Universitas Indonesia!

Selamat berkonferensi!***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: