Melihat Siasat Lengger Menari

Penulis: Kendar Umi Kulsum

Hawa panas malam itu tidak menghalangi Ratih dan Marni untuk terus bergoyang menghibur penonton yang ada di sana. Malam ini seperti juga malam-malam biasanya selama menari Marni dan Ratih kadang-kadang ditemani oleh penonton yang ikut bergoyang sekedar menghibur diri menikmati musik yang ada. Di lapak tempat penyimpanan barang-barang bekas tersebut dihuni oleh beberapa orang laki-laki dan dua orang perempuan yang juga ikut menari dan bersama lengger keliling tersebut.

Hiburan tarian yang diiringi oleh seperangkat peralatan musik tradisional tersebut memberikan suasana meriah bagi para penghuni lapak yang sehari-hari hanya ditemani oleh suara radio atau kaset saja. Keberadaan Marni dan Ratih yang mengajak orang menari sambil bernyanyi tak pelak menyulut semangat para lelaki yang ada di sana untuk ikut berjoget.

Suasana sepi pun jadi lebih bersemangat ketika semua yang ada di lapak itu ikut bergembira bersama hingga tidak ada lagi jarak antara penghibur dengan penonton yang dihibur. Suasana yang cair demikian ternyata tidak selalu ditanggapi positif oleh masyarakat pada umumnya. Ada anggapan di masyarakat umum bahwa lengger dan sejenisnya adalah hiburan erotis yang mengumbar syahwat hingga dianggap hiburan yang tidak patut ditonton. Ada lagi anggapan di kalangan intelektual yang melihat para penari hanya menjadi obyek seks laki-laki penontonnya.

Pandangan demikian sebenarnya didasari oleh pemikiran bahwa perempuan dianggap sebagai milik laki-laki yang tidak memiliki kehendak bebas untuk menentukan keinginannya sendiri. Dalam hal penari tradisi yaitu kehendak bebas terhadap seksualitasnya, daya tarik perempuan yang dipamerkan di depan publik adalah pandangan yang berlawanan dengan nilai dominan masyarakat. Pada masyarakat awam melihat seni tradisi sebagai hiburan yang mengumbar seksualitas, membuka sesuatu yang biasanya hanya boleh terjadi di ruang privat keluar ke ruang publik. Di sini lengger dianggap melakukan sesuatu yang tabu bagi masyarakat umum, menari erotis dan memancing laki-laki untuk mendekati mereka.

Tidak dapat dipungkiri dalam hiburan yang menampilkan perempuan sebagai yang utama selalu menarik perhatian laki-laki dan sebagian besar penikmat hiburan tersebut adalah laki-laki. Namun, jangan dilupakan bahwa penari telah menyadari pilihannya sebagai penghibur yang memang menonjolkan ciri kewanitaan. Mereka menyadari betul bahwa bukan hanya gerakan tarian yang harus mereka tampilkan, juga performa fisik yang turut menunjang hiburan mereka. Itulah sebabnya, Lengger berhias diri dengan memoles wajah mereka hingga pakaian yang harus mereka kenakan. Dalam hal ini tubuh dimaterialisasikan menjadi alat kerja, seperti halnya para penari yang mempersiapkan tubuh mereka agar dapat tampil prima.

Persoalan yang terjadi pada seni tradisi di masa kini adalah mereka masih tetap eksis dengan bentuk yang sama ataupun tidak jauh berbeda dengan awal mula tradisi itu muncul. Sebaliknya, persepsi dan nilai yang berkembang dalam masyarakat sejalan dengan modernisasi dan kapitalisasi terus bergeser. Jika menilik kebelakang pada sejarah awalnya seni tradisi yang disebut ronggeng atau lengger di Banyumas, maka banyak pergeseran yang terjadi di masyarakat. Sebelum tahun 1965 lengger calung Banyumas merupakan hiburan rakyat yang sangat digemari berbagai kalangan, dari kalangan atau priyayi hingga masyarakat bawah. Saat itu tidak ada kekhawatiran ataupun penilaian buruk terhadap lengger, termasuk dari para istri yang suaminya menggemari kesenian tradisional tersebut. Lengger dianggap duta budaya desa asalnya, bahkan menjadi kebanggaan masyarakat desa tersebut jika ronggengnya terkenal.

Maka tidak mengherankan jika Gadis Arivia mengungkapkan bahwa penguatan budaya patriarki sesungguhnya terjadi pada era modern yang telah dibangun, diyakini, diakumulasi dan diekspresikan dalam bentuk-bentuk sistem ilmu pengetahuan dan hukum-hukum universal yang didasarkan pada manusia rasional.

Suryakusuma menilai bahwa anggapan perempuan sebagai wahana seksualitas dan laki-laki pelaku seks sebagai subyek yang bisa “mengendalikan” atau “menggarap” perempuan sebagai obyek seksualnya Menurut Suryakusuma hal itu konsisten dengan ideologi gender yang menempatkan laki-laki sebagai yang utama dan perempuan sebagai sekunder. Melihat pendapat Suryakusuma tersebut, Penulis ingin menegaskan bahwa pandangan yang menganggap perempuan hanyalah menjadi obyek seks laki-laki sebenarnya berangkat dari pemikiran patriarki yang mengganggap perempuan hanyalah makhluk yang pasif secara seksual. Pandangan itu menafikan kenyataan penari dapat turut mendesain relasi seksual ketika berhadapan dengan laki-laki, dan bukan seolah perempuan di sana hanya menghadirkan tubuh tanpa pikiran terencana.

Tengok saja Marni dan Ratih yang hanya mentertawakan laki-laki yang berbicara memuji atau menggoda. “Laki-laki kalo ngomong emang begitu, itu karena nggak ada omongan lain”, ucap Ratih. Ketika ditanya bagaimana perasaanya ketika banyak laki-laki yang memperhatikannya saat menari, Ratih dan Marni merasa bahwa hal itu biasa bagi mereka, dan mereka menyadari bahwa kehadiran mereka sebagai penghibur memang untuk ditonton. Demikian pula ketika menari bersama dengan laki-laki penontonnya, penari sangat memperhatikan semua gerak-gerik laki-laki pengibingnya, hingga tidak pernah “kecolongan”. Dan jika seorang pengibing menunjukkan gelagat kurang baik, biasanya dengan tenang penari mengingatkan laki-laki tersebut. “Biasanya kalo ada yang terlalu dekat menyorongkan mukanya langsung saya suruh mundur sambil pake tangan begini,” ujar Marni sambil menunjukkan posisi tangan mendorong.

Pernah dalam suatu pertunjukan ketika banyak penonton yang ikut menari sambil memberikan uang saweran, tanpa diduga seorang pengibing menyorongkan wajahnya untuk mencium pipi si penari, ternyata secepat kilat Ratih mendorong laki-laki tersebut. Kejadian itu tentu saja membuat penonton bersorak, penonton menolak tingkah anak muda tersebut. Dalam setiap pertunjukan lengger yang dikelilingi banyak penonton, biasanya penonton lah yang justru lebih ketat mengawasi para pengibing yang ikut menari bersama lengger. Dalam situasi demikian sangat terasa bahwa lengger menjadi milik penontonnya bukan lagi kepentingan penonton laki-laki, tetapi komunitas penonton yang terbentuk seketika itu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: