Orang-orang Pinggiran yang Memainkan Musik Pinggiran: Balada Pengamen Lengger di Jakarta

Penulis: Kendar Umi Kulsum

Siang itu rombongan musik tradisional itu memulai perjalanannya dari Kebayoran, Pondok Indah dengan naik bus kota menuju Kecamatan Tambora dan berhenti di satu gang untuk kemudian menurunkan berbagai alat musiknya. Tidak lama kemudian tiga orang penari menyanyi sambil menari, setelah menyanyikan beberapa lagu mereka kemudian meminta saweran kepada penduduk setempat yang tidak jauh dari tempat mereka menyanyi. Setelah itu kemudian rombongan pengamen jalanan itu melanjutkan lagi perjalanan mereka dan mencari tempat untuk menyanyi dan meminta saweran kembali.

Itulah gambaran aktifitas group Sekar Budaya yang didukung oleh tiga penari dan lima orang pemain musik yang membawa alat musik seperti Gendang, Saron, Suling, Kecrek dan satu unit sound system sederhana. Sehari-hari mereka mencari nafkah dengan menjadi kelompok pemusik jalanan yang mengusung kesenian tradisional yang disebut Lengger Banyumas. Meski dengan alat musik tradisional tetapi lagu yang mereka bawakan adalah jenis lagu campursari yang biasanya familiar di kalangan masyarakat pengemarnya. Dalam sehari mereka dapat mengumpulkan uang antara 200-300 ribu rupiah, dan hanya pada saat tertentu saja penghasilan mereka dapat mencapai 500 ribu rupiah. Seluruh penghasilan tersebut tentunya harus dibagi rata pada para anggotanya.

Seperti diakui oleh pemimpin group Lengger ini, bahwa pada bulan – bulan tertentu mereka menghabiskan waktu di kampung, yaitu ketika sawah membutuhkan banyak tenaga kerja. Sedang pada waktu lainnya mereka pergi ke Jakarta dengan membawa saudara ataupun tetangga yang akan ikut bergabung dalam group musik mereka. Meski di Jakarta penghasilan mereka tidak seberapa, tetapi itu masih lebih baik daripada mereka hanya menganggur dan tidak memiliki penghasilan sama sekali di desanya.

Keberadaan mereka di Jakarta, seperti diakui oleh Ratino disebabkan sulitnya mencari nafkah di derah asalnya yaitu Cilacap, Jawa Tengah. Mereka hanyalah buruh tani yang hanya mendapat pekerjaan pada musim tanam dan musim panen saja, selain itu mereka menganggur. Dengan bekal pengenalan musik dan tarian seadanya mereka berangkat ke Jakarta, karena di daerah hiburan musik tradisional sudah tergusur oleh musik dangdut campursari. Maka menelusuri perkampungan dan gang-gang sempit di Jakarta adalah pilihan terakhir yang dapat mereka lakukan.

Menyadari bahwa musik dan pertunjukan yang mereka tampilkan berasal dari Jawa Tengah, maka biasanya mereka menelusuri perkampungan di Jakarta yang banyak dihuni oleh pendatang etnis Jawa. Di sini mereka tidak sekedar menjadi pengamen yang mengharapkan uang saweran ataupun pemberian dari orang-orang yang ada di sekitarnya. Apresiasi dari masyarakat mereka dapatkan secara lebih baik dan tentunya uang saweran pun biasanya lebih banyak.

Lengger selalu berharap ada penonton yang memesan lagu, karena satu buah lagu dihargai lima ribu rupiah, tentu saja hal itu sangat disukai oleh kelompok lengger. Dan yang paling menyenangkan adalah bila saat perayaan kemerdekaan di bulan Agustus. Biasanya ada masyarakat yang menyediakan panggung untuk penampilan Lengger maka pertunjukan ini jauh lebih menyenangkan bagi kelompok lengger. Karena selain tidak lagi harus berkeliling kampung, mereka juga sudah mendapat bayaran dari pihak pengundang dan masih ada kesempatan untuk mendapatkan saweran dari penonton. Maka, biasanya kelompok lengger ini selalu ada di Jakarta pada bulan Agustus karena pada bulan ini penghasilan mereka dapat meningkat dari biasanya.

Tidak mengherankan jika musik yang mereka bawakan biasanya hanya menarik perhatian masyarakat menengah ke bawah. Baik musik maupun pertunjukan yang disajikan memang sederhana, tidak tampak berkelas pun tarian yang dibawakan. Para penari dan penyanyi nya bukanlah orang yang mendapat pendidikan seni tari dan nyanyi secara khusus, tetapi hanya menyanyi seadanya demikian pula tarian mereka.

Para penari hanya menari beberapa bulan saja pada seorang guru tari di kampungnya, setelah itu mereka belajar bernyanyi lewat Video CD. Maka tarian mereka lebih sebagai tari pergaulan yang tidak memiliki banyak aturan atau pakem tertentu. Namun, penampilan itu tetap menarik perhatian masyarakat kelas bawah di perkampungan Jakarta. Seperti diungkapkan oleh Faruk, bahwa masyarakat kelas bawah gemar dengan musik yang mudah dipahami dengan bahasa eksplisit, dengan citra tubuh yang menonjol, yaitu citra kekuatan fisik dan seksual. Maka tidaklah mengherankan jika sajian dari kelompok Lengger Banyumas ini memiliki kelompok penggemar tersendiri.

Oleh karena itu ketika kelompok lengger ini bertemu dengan komunitas masyarakat urban etnis Jawa seringkali Lengger mendapat pesanan lagu dari penonton yang ada disekitarnya. Maka saat itu semangat para lengger bertambah dengan nyanyian dan tarian mereka, dan tentunya suasan bertambah hangat dengan tepuk tangan ataupun goyangan dari penonton di sekitarnya.

One response to this post.

  1. Tulisannya bagus,….kisah orang-orang kecil saat menikmati hiburan murah…..tanpa harus repot-repot membeli karcis atau pergi ke panggung hiburan,…kelompok musik jalanan sudah ada dihadapan siap untuk menghibur….sekali lagi…Kak Umi tulisan humaniora seperti ini sangat ditunggu oleh pembaca….yang telah bosan dengan carut marut panggung politik……salam hangat dari Kepulauan Riau……

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: