“Meriah-Hangat-Tua-Muda-Lelaki-Perempuan pada Hari Kartini di Gramedia Matraman”

Dari Peluncuran Buku “Berbeda tetapi Setara: Pemikiran tentang Kajian Perempuan“- Saparinah Sadli

Oleh

Imelda Bachtiar

Vera, perempuan muda yang cantik dengan tampilan wanita eksekutif, terburu-buru masuk ke Function Room, Toko Buku Gramedia Matraman. Sebentar bercelingukan, ia lalu masuk dan langsung menghampiri counter pembelian buku yang tepat berada di samping meja registrasi. “Saya mau beli 7 buku ya! Bisa membayar dengan debit card?” begitu katanya sambil tersenyum manis kepada kasir. “Titipan teman-teman,” katanya ketika saya bertanya untuk apa membeli buku sebanyak itu. Tak berapa lama, masuk seorang pelajar, Felicia, masih memakai rok seragam, mendekati kasir, “Kalau membeli buku di acara ini ada diskon?”. Waktu dijawab tidak ada diskon, dia tetap membuka dompetnya dan membeli satu buku. Beberapa undangan dari kalangan teman-teman penulis pun, tidak segan membeli buku di counter pembelian, walaupun sempat bertanya, ”Kok saya tidak ada jatah buku?”.

Begitulah siang itu, 21 April 2010, suasana di Toko Buku Gramedia Matraman memang sangat meriah. Peluncuran buku “Berbeda tetapi Setara, Pemikiran tentang Kajian Perempuan” karya Saparinah Sadli (83) atau Ibu Sap, tokoh pencetus studi kajian perempuan di Indonesia, pendiri Komnas Perempuan dan pegiat dalam pelbagai isu perempuan di tanah air, bukan cuma dihadiri kawan akrab, sesama aktivis dan peneliti isu perempuan atau mahasiswanya di Fakultas Psikologi Universitas Indonesia dan Kajian Wanita UI. Tetapi juga dihadiri oleh mereka yang cuma mengenal sosok Ibu Sap dari media massa.

Kehadiran banyak perempuan usia muda seperti Vera dan Felicia juga menjadi bukti, acara ini tidak eksklusif untuk mereka yang sebelumnya sudah bergelut dalam persoalan perempuan di Indonesia, atau yang paham soal kajian perempuan. Sebagian besar, termasuk para praktisi media massa yang laki-laki, justru datang dengan keingintahuan yang besar atas isi buku yang diluncurkan. ”Saya ingin tahu apa sih pandangan Ibu Sap tentang pekerja migran Indonesia?” begitu komentar seorang wartawan senior sambil membolak-balik buku di tangannya.

Sampai pukul empat sore, ruangan serba guna yang kapasitasnya cuma sekitar 200 orang, telah dipenuhi hampir 250 orang hadirin. Kursi sampai perlu ditambah dan MC, Kristi Poerwandari harus mengumumkan penundaan acara beberapa menit sampai semua hadirin mendapat tempat duduk.

Catatan Gerakan Perempuan

Buku ”Berbeda tetapi Setara” adalah buku kumpulan 47 tulisan Saparinah Sadli tentang berbagai persoalan yang melingkupi perempuan Indonesia. Uniknya, semua tulisan ini dibuat dalam rentang waktu yang cukup panjang 1984-2009. Sehingga tidak disengaja akhirnya menjadi semacam catatan sejarah gerakan perempuan di tanah air. Memang tidak komplit, karena penulisnya tentu saja mempunyai preferensi atas topik apa yang ditulis dan kemudian ditampilkan di dalam buku ini.

Namun seperti yang dikatakan seorang pembahas dalam bincang-bincang buku, sosiolog Dr. Tamrin Amal Tomagola, buku ini menggambarkan ”proses menjadi” atau becoming yang dialami penulisnya. ”Bu Sap lahir dari keluarga priyayi Jawa, yang tidak pernah mengalami kemiskinan, kesulitan akses atas pendidikan tinggi, atau kesulitan akses atas kesehatan, tetapi kemudian justru lebur dan berjuang untuk hal-hal itu di masa dewasanya,” demikian Tamrin. Ia juga menyebut kata kunci lain untuk buku ”Berbeda tetapi Setara” adalah MDGs atau Tujuan Pembangunan Milineum. Saparinah, menurut Tamrin, adalah orang pertama yang jeli melihat bahwa MDGs berwajah perempuan, karena hampir setiap targetnya terkait dengan persoalan perempuan.

Pembahas lain, wartawan senior dan pendiri majalah berita mingguan TEMPO, Fikri Jufri mengomentari Saparinah sebagai perempuan yang luar biasa dalam endorsement buku ini. Ia juga menyoroti peran perempuan muda di media massa yang semakin kuat. Kalau dulu sangat sulit dunia pers ditembus oleh perempuan, maka kini terbukti perempuan bisa mencapai posisi apapun dalam jenjang organisasi media. ”Lewat tes potensi yang dilakukan bagian SDM di majalah TEMPO, terbukti perempuan mempunyai endurance yang lebih tinggi ketimbang laki-laki. Lebih gigih mengejar sumber berita dan piawai merangkai kata juga melobi. Dari 3000 lamaran calon reporter yang masuk tahun ini, terjaring 20, dan 14 diantaranya adalah perempuan,” tambahnya. Hanya Fikri menyayangkan pemberitaan media massa tentang perempuan yang saat ini hanya menyentuh hal yang periferal, tidak substansial. ”Pemberitaan tentang perselingkuhan seorang artis perempuan, akan mendapat porsi luar biasa besar, sementara hal yang sama tidak pernah dilakukan untuk memberitakan seorang perempuan yang berprestasi di bidang sains, misalnya,” demikian Fikri.

Iklilah Muzayyanah, alumni Kajian Wanita UI yang juga peneliti RAHIMA, banyak membahas isu perempuan muda dan kesetaraan dengan laki-laki dari sudut pandang agama Islam. ”Saya sering sekali mendengar cerita Siti Hajar dan anaknya Ismail. Sejak saya kanak-kanak. Tetapi membaca apa yang ditulis Ibu Sap di buku ini, membuat saya terperangah. Masya Allah ternyata cerita ini sangat kental perspektifnya perempuannya,” kata Iklilah.

Ester Lianawati, salah seorang pembahas dari sudut pandang psikologi, mengaku kesan pertamanya sejak mulai membaca buku ini adalah malu kepada dirinya sendiri. Kata dosen Fakultas Psikologi UKRIDA ini, semua hal yang diajarkan kepada mahasiswanya di kelas, ”Ternyata tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan apa yang Ibu Sap tulis dalam buku ini. Bahkan sudah lebih dari 20 tahun lalu, Ibu telah mengupasnya dengan tajam. Jadi, buku ini adalah buku wajib untuk semua yang ingin memetakan persoalan perempuan di tanah air”.

Masa Depan Kajian Wanita

Secara kebetulan, persoalan masa depan Program Studi Kajian Wanita, terangkat pula. Salah seorang hadirin yang juga pernah mengajar di Kajian Wanita, Smita Notosusanto, mempertanyakan rumor apakah betul Kajian Wanita dipandang oleh pejabat UI saat ini, tidak lagi penting. Lebih buruknya lagi, akan ditutup karena sepi peminat. Kontan saja ruangan menjadi ramai.

Ibu Sap sendiri dalam sambutannya sempat menceritakan latar belakang didirikannya Kajian Wanita di lingkungan UI. Hal yang dicatatnya sangat luar biasa adalah, pendiriannya pada 1990 justru berawal dari dukungan kuat Rektor UI saat itu, almarhum Prof. Dr. Sujudi. ”Padahal pada saat itu kajian perempuan apalagi terminologi gender, belum diterima secara luas seperti sekarang. Itulah sebabnya apresiasi yang tinggi justru perlu kita berikan kepada pejabat struktural UI pada saat itu,” demikian Ibu Sap. Lalu ia memberikan bukunya dan buku ”Mereka dan Saparinah Sadli” kepada isteri almarhum Prof. Dr. Sujudi.

Beberapa orang lagi yang menerima buku sebagai tanda apresiasi penulis atas apa yang telah mereka lakukan adalah Prof. Dr. Iskandar Wahidiyat, saat itu Direktur Program Pascasarjana; Prof. Dr. Siti Musdah Mulia, pegiat isu perempuan dalam agama yang disebut Bu Sap sebagai Feminis Islam Indonesia; Smita Notosusanto, aktifis perempuan dalam bidang politik; Andi Yentriyani, komisioner Komnas Perempuan dan cucu Ibu Sap, Aisha Puteri.

Secara khusus pula, Ibu Sap menghaturkan terimakasih yang tulus kepada Penerbit Buku KOMPAS. ”Kesediaan KOMPAS menerbitkan buku ini menunjukkan sikap kepedulian media cetak terhadap terhadap isu dan kajian perempuan di Indonesia. Saya ingin tekankan ini, karena meskipun perempuan muda zaman sekarang sudah menunjukkan kemajuan yang sangat memukau, diskriminasi terhadap perempuan di lingkungan keluarga, pendidikan dan kerja, dan dalam masyarakat umumnya, masih menjadi realitas sehari-hari bagi perempuan Indonesia pada umumnya,” demikian Ibu Sap. Rasanya tepat. Sulit, tanpa peran media massa sebagai ujung tombak untuk menyebarluaskan isu dan kajian perempuan di Indonesia. ***

One response to this post.

  1. Ayo…perempuan-perempuan penerus Kartini….majulah!!!

    salam

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: