Pengalaman Hidup yang Membawa Pada Wacana Baru

Saya ingin mengungkapkan latar belakang yang membuat saya tertarik mengambil program master di Pusat Studi Kajian Wanita Universitas Indonesia. Saya berasal dari keluarga besar, anak kelima dari tiga belas bersaudara. Pernah ada yang bertanya apakah 13 itu berasal dari satu ibu atau dua ibu? Saya jawab satu ibu – satu bapak! Jadi ibu saya pernah tiga belas kali melahirkan!

Sebenarnya beliau pernah hamil lima belas kali! Hanya dua kali keguguran sehingga anaknya hanya tiga belas! Sejak kecil saya sering bertanya dalam hati mengapa ibu saya yang dipanggil “emak” hamil terus-menerus. Setelah mulai besar saya mengamati ternyata ibu saya tidak pernah menginginkan banyak anak, hal pernah diungkapkan secara lisan, tetapi mengapa beliau membiarkan dirinya hamil terus-menerus? Mengapa dia tidak pernah memprotes suaminya atau berusaha melakukan sesuatu agar tidak hamil lagi? Ternyata emak adalah perempuan yang sangat patuh pada teks agama, dia pernah mengungkapkan bahwa jika seorang istri tidak patuh pada suami maka dia tidak bisa masuk surga.

Akibatnya emak tidak pernah berani melakukan tindakan apapun agar tidak hamil lagi, apalagi suaminya (bapak) tidak pernah mengijinkan emak menggunakan alat kontrasepsi apapun. Padahal emak tidak selalu merasa nyaman ataupun bahagia setiap kali dia hamil, hal itu saya ketahui setelah dewasa ibu sering menceritakan tentang kehamilannya. Salah satu yang saya tangkap adalah seringnya emak berusaha menggugurkan kandungannya dengan cara minum jamu atau ramuan tradisional agar kandungannya keluar. Jika dihitung dengan jumlah kehamilan maka lebih banyak anak-anak yang coba dia gugurkan saat di awal kehamilan daripada pasrah dengan kehamilannya. Bahkan, salah seorang adik saya ada yang lahir dengan tubuh yang kurang sempurna, yaitu salah satu tungkai kakinya agak bengkok. Menurut Bidan yang menolong melahirkan mengatakan kemungkinan penyebabnya adalah obat atau ramuan yang kemudian justru merusak jaringan saraf kaki adik saya ketika dalam kandungan.

Meski saya tidak bisa memprotes atau marah dengan bapak, tetapi saya tidak bisa sepenuhnya menerima apa yang menjadi nasib ibu saya. Begitu besar pertanyaan dalam hati saya, yaitu mengapa ada perempuan seperti emak? Dia begitu patuh pada tafsir agama yang dia ketahui dan sangat patuh pada suami meskipun dia selalu berusaha menolak kehamilannya. Bahkan beberapa kali ibu saya menangis setelah pulang dari klinik bersalin, dia mengatakan pada bapak bahwa dia sudah capek dan tidak ingin melahirkan lagi, bapak saya berkeras melarang dia menggunakan alat kontrasepsi. Meskipun bapak tidak pernah meminta dia melahirkan, namun bapak juga tidak menyetujui ibu melakukan aborsi ke dokter. Pernah hanya satu kali ke dokter untuk aborsi tetapi akhirnya batal karena si dokter berkeras meminta ibu saya disteril karena saat itu ibu sudah memiliki sembilan orang anak. Bapak sangat marah dengan permintaan dokter tersebut akhirnya ibu batal melakukan aborsi legal.

Setelah saya dewasa saya mencoba untuk mencari tahu latar belakang mengapa ada perempuan seperti ibu saya, akhirnya saya memilih kuliah di PSKW UI. Setelah belajar di tempat itu akhirnya saya jadi memahami mengapa perempuan sangat patuh pada tafsir agama meskipun itu kadang menjadi sangat tidak adil bagi perempuan. Dari PSKW-lah saya tahu bahwa ada ideologi yang disebut patriarki yang telah menjadi mainstream pada berbagai aspek kehidupan, baik itu agama, sosial hingga masuk ke ruang kehidupan yang paling pribadi.

Umi Kendar Kulsum

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: