Prof. Dr. Tapi Omas Ihromi: Ulang tahun ke-80 bersama anak, sahabat dan para murid

Penulis: Imelda Bachtiar

Tulisan ini adalah bagian dari buku “Mereka dan Saparinah Sadli: Kumpulan Tulisan Media dan Kesan Para Sahabat”.


Siang di hari libur Paskah itu, Jum’at 2 April 2010, boleh jadi hari paling membahagiakan untuk Tapi Omas Ihromi (80). Hari itu, ia tepat berusia 80 tahun. Pengagas Kajian Wanita Universitas Indonesia yang dikenal luas di tanah air sebagai antropolog dengan kekhususan pada bidang Antropologi Hukum. Sebagai ahli hukum, ia tidak ingin berhenti di situ, karena menurutnya, banyak pertanyaan yang tidak bisa dijawab ketika melihat bagaimana hukum bersentuhan dengan masyarakat. Itu sebabnya ia merambah bidang Antropologi Hukum.

Guru Besar bidang Ilmu Hukum UI kelahiran Pematangsiantar, 2 April 1930 ini, dikenal sangat kuat keberminatannya pada isu perempuan di Indonesia, jauh sebelum dilahirkannya Kajian Wanita UI pada 1990. Bahkan sahabatnya, Prof. Dr. Saparinah Sadli dan salah seorang muridnya, Prof. Dr. Sulistyowati Irianto, menyebutnya sebagai The Mother of Indonesian Feminist Studies.

Minat besarnya pada isu perempuan di Indonesia telah ditunjukkan sejak Bu Ihromi, demikian semua orang  memanggilnya, mengajar di Fakultas Hukum setelah lulus tahun 1958 dan kemudian berhasil mendapatkan gelar doktor dalam bidang antropologi hukum pada 1978, dengan menulis disertasi berjudul “Adat Perkawinan Toraja Sa’dan dan Tempatnya dalam Hukum Positif Masa Kini”. Sebagai seorang pakar hukum adat, Bu Ihromi memang aktif membela kepelbagaian adat-istiadat di Indonesia. Ia berpendapat, penyeragaman hukum di Indonesia, seperti yang dilakukan oleh pemerintah Orde Baru, hanya akan menimbulkan masalah di masyarakat. Tak banyak yang tahu, Bu Ihromi juga ikut membidani lahirnya Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UI.

Karya fenomenalnya antara lain: Bianglala Hukum: hukum dan antropologi, hukum dan integrasi bangsa, hukum dan kedudukan wanita, antropologi hukum dan polisi, wanita dan kesadaran hukum (1986), Kajian Wanita dalam Pembangunan (1995) dan Penghapusan diskriminasi terhadap wanita, sebagai ko-editor bersama Sulistyowati Irianto dan Achie Sudiarti Luhulima (2000).

TO Ihromi

Ia guru sejati. Pernah menjadi guru taman kanak-kanak, sampai berkarir puncak sebagai ”mahaguru” di tingkat Universitas. Kiprah perempuan sederhana ini dilanjutkan pada tahun 1979, dengan gagasan untuk mewujudkan Kelompok Studi Wanita di FISIP UI bersama dengan Dr. Mely G. Tan dan rekan lainnya. Ia pencetus, sekaligus pengajar mata kuliah ”Wanita dan Pembangunan” di FISIP UI. Barulah kemudian pada 1990, bersama Saparinah Sadli atau Bu Sap, ia mendirikan Program Studi Kajian Wanita di tingkat magister UI.

Acara syukuran ulang-tahunnya ke-80 siang itu, menjadi tanda  bagaimana berlapisnya generasi yang pernah mendapat pengaruh ibu dua orang anak perempuan dan nenek empat orang cucu ini. Entah sebagai murid,  teman, akademisi, peneliti. Selain Saparinah Sadli, hadir dalam acara makan siang yang akrab dan guyub itu, Mayling Oey-Gardiner, Achie Luhulima, Sjamsiah Achmad, Nursjahbani Katjasungkana, Luhut MP Pangaribuan, Benjamin Mangkudilaga, Tamrin Amal Tomagola sampai murid-muridnya seperti Sulistyowati Irianto, Eri Seda, Ani W. Soetjipto, Kristi Poerwandari, Anita Rahman, Ida Ruwaida Noor dan Evelyn Suleeman.

Nia Kurniati, puteri tertua, berhasil menyulap acara ini menjadi momen kangenan untuk ibunda tercinta dengan komunitas yang paling akrab dengan ibunya ini. Suasana semakin meriah ketika dinyanyikan Edelweiss, lagu soundtrack The Sound of Music, kesayangannya.

Bu Ihromi sudah lima tahun ditinggal pasangan hidupnya Prof. Dr. Ihromi, pendeta, teolog, pakar Perjanjian Lama dan bahasa Ibrani Indonesia. Sejak meninggalnya sang suami, dan anak keduanya Ade,  Bu Ihromi memang hampir tidak pernah aktif kembali di ranah publik. Baik sebagai dosen, peneliti atau aktifis. Rasa syukur keluarga juga tercermin dalam sambutan Nia, ”Terimakasih untuk semua perhatian. Ibu bisa melihat betapa semua orang amat sayang dan mencintai Ibu. Hampir semua yang diundang, menyempatkan datang.” Bu Sap pun ikut berpendapat, ”Kehilangan orang yang sangat dekat dan bagian dari diri kita, memang bisa membuat kita terpukul. Tetapi jangan sampai membuat kita tenggelam dalam kesedihan, dan tidak lagi beraktifitas. Saya juga mengalami hal itu.”

Ulang tahun Prof. Dr. T.O. Ihromi

Dalam sebuah buku yang terbit tahun 2007 oleh Kajian Wanita UI, Perempuan Pejuang Menitipkan Pesan Bagaimana Mengisi Kemerdekaan, Tapi Omas Ihromi mengatakan, ”Saya ingin generasi muda mau mempelajari sejarah perjuangan bangsa, lebih banyak menimba inspirasi dan membuat hidup lebih bermakna. Kelak mereka yang akan menjadi ’tua’ seperti kami, diharap mampu menjalani hidup secara penuh. Artinya, mampu membangun hubungan antarmanusia yang dilandasi pengertian, keterbukaan, kemauan untuk berbagi, dan ketulusan. Prinsip saya, hiduplah untuk Tuhan, agar kita dapat berbuat menurut apa yang Tuhan kehendaki. Mohon selalu ampunan-Nya. Tidak ada keberanian saya untuk melakukan segala sesuatu yang tidak mampu saya lakukan di hadapan Tuhan.”

Rasanya, Bu Ihromi telah menunjukkan, ia berhasil mengampu prinsip hidupnya itu. Generasi muda tinggal mengikuti jejaknya.***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: