Gamang dalam Resah di Tepian Kali Ciliwung: Suara Hati Kartini Era Facebook

Ratna Laelasari Yuningsih

Gamang itulah yang kurasakan saat ini ketika berdiri di tepi kali Ciliwung. Kali masa kecil yang penuh cerita bahagia. Saat itu, airnya masih bening dan setiap pagi dan petang anak perempuan dan laki-laki berbaur mandi bersama sambil bercanda ria. Tatkala mengingat itu semua, aku tersenyum bahagia. Namun, senyum itu kembali menghilang bersama gumpalan kali Ciliwung yang kini berwarna hitam kelam dihiasi sampah rumah tangga yang berenang gaya bebas di atasnya. Aku kembali tercenung dan kehilangan arah larut bersama kelamnya kali Ciliwung berikut risau hati yang belum menemukan dermaganya. Meskipun demikian, Aku masih bisa tersenyum kembali tatkala teringat kawan lama yang curhat tentang kerisauan hati dan kegamangannya dalam menapaki sisa hidup, yang sebenarnya merepresentasi jiwaku juga.

Kegamangannku semakin memuncak dipicu oleh macetnya komunikasi antara aku dan Anes yang sudah berjalan dua bulan. Aku kehilangan dia. Dia seperti orang asing yang tak pernah kukenal sama sekali. Mungkin sebaliknya juga aku di mata dia bak orang antah berantah yang tak pernah dijumpainya. Padahal, kita telah hidup bersama satu atap laksana adik, teman, kakak, maupun ibu hampir 12 tahun. Tawa dan canda hilang bak ditelan tsunami. Ya, ada kegalauan yang bercampur nestapa, tapi kehidupan masih terus berputar dan denyut nadiku masih berdetak. Meskipun terkadang aku ingin hentakan denyut itu berhenti dan segera mengakhiri semua cerita hidup yang tak kuinginkan; putus asa. Namun ketika rasa itu hadir , aku teringat teman lain yang tidak sempurna secara fisik. Dia pernah berkata kepadaku bahwa anugrah paling indah adalah kehidupan dan jangan disia-siakan. Ada rasa malu menyelinap di ruang bathin kesadaranku, namun hilang disapu angin kembali tatkala terjebak kembali dalam rutinitas dan situasi rumah dan pekerjaan yang membosankan.

Aku tahu dan sadar harus keluar dari situasi seperti itu. Namun aku limbung, entah dari mana harus memulainya. Keluar dari zona nyaman yang menyesakkan? Lari dari masalah? Selesaikan masalah? Mulai lagi menata aliran komunikasi dengan Anes? Sebenarnya, aku pernah mencoba berulang kali untuk membuka komunikasi akan tetapi selalu gagal, yang ada hanya komunikasi tanpa suara. Pada akhirnya aku menyerah kalah dan ikut hanyut dalam dialog tanpa kata dan tanpa suara. Rumah hening seperti kuburan. Sungguh aku merindukan masa-masa indah tatkala suasana saling menumbuhkembangkan antara aku dan Anes baik dari aspek sosial kemanusiaan maupun spiritual.

Di situlah keunikan dan kemisterian manusia. Ternyata, meskipun sudah lama “bersentuhan”, akan tetapi bukan jaminan kita mengetahui secara utuh orang-orang yang secara fisik sangat dekat dengan kita. Oleh karena itu, Aku semakin memahami rasa orang-orang yang bercerai dari orang-orang yang sebelumnya saling mencintai, mengasihi, dan menyayangi serta lantas kemudian mereka saling benci meskipun masih ada rasa rindu yang bergayut dalam hatinya.

Namun keegoisan, rasa malu berselubung topeng keangkuhan mengalahkan rasa yang sebenarnya masih kuat akan tetapi perlahan tapi pasti keranda kematian hati dan rasa sengaja diusung menuju liang lahat yang berujung tinggal gundukan hati terluka, duka, dan sepi sepanjang hayat. Haruskah realitas seperti ini tetap menjadi kawan setia sepanjang masa?

Ku diam, kau diam
Kau sepi, ku sepi
Ku duka, kau lara
Kau simpan, ku pendam
Nestapa cinta
Lepas sudah duka ini
Lepas sudah lara ini
Akhiri, lalui derita cinta kehidupan

Alunan lagu temanku semakin menyayat hati sekaligus menggugah rasa untuk segera mengakhiri drama epik kehidupan yang kini menyelimuti kehidupanku dengan Anes. Seperti digerakkan oleh tongkat sihirnya Harry Potter, tangan ini kemudian menyalakan netbook dan langsung kubuat surat untuk Anes.

Anes, sobat terkasih,
Aku harap duka yang berkubang dalam hatimu yang disebabkan olehku semoga cepat sirna seperti halnya kemarau panjang hilang lenyap oleh datangnya dewi hujan. Aku sangat menyadari bahwa potret muram hubungan kita telah mengikis habis sisterhood di antara kita sebagai perempuan dengan perempuan. Haruskah abrasi sisterhood di antara kita diperpanjang sampai akhirnya hilang lenyap ditelan gelombang laut kehidupan?

Anes, sobat terkasih

Alangkah nestapanya diriku, mungkin juga dirimu yang kini berjalan sendiri-sendiri meskipun masih tinggal satu atap. Alangkah sayangnya persaudaraan sosial yang kita bangun selama ini harus berakhir. Padahal, sisterhood diantara kita telah terbangun tatkala orang-orang masih tertidur pulas dalam rangkulan individualistik dan kini mereka terjaga atas pentingnya sisterhood di tengah beban dan tantangan hidup baik di keluarga, masyarakat maupun di tempat kerja yang tentunya sangat menguras energi pikir dan rasa yang tidak pernah usai dari masalah klasik. Ya masalah klasik yang menyejarah dalam kehidupan manusia: persaingan hidup tidak sehat, penghianatan suami ataupun isteri, tirani pimpinan, keserakahan, kenakalan anak, suami, isteri, mertua dan masih banyak lagi beban yang menghimpit psikologis. Anes yang baik, haruskah carut marut persoalan itu tetap menjadi warna kehidupan kita? Bukankah kita ingin bahagia dan lepas dari tirani diri sendiri yang digayuti aneka persoalan di atas, termasuk masalah di antara kita?

Anes, sobat terkasih
Untuk mencairkan hubungan kita bagaimana kalau libur mendatang kita nginap di Vila Situ Gunung dan kita buka semua, apa saja yang mengganjal pikiran dan hati kita masing-masing. Semoga suasana sejuk di vila itu membawa kesejukan pula pada hati dan pikir kita. Bagaimana?
Oke Nes, aku tunggu jawabanmu ya.

Salam hangat,
Gamayu Kencana Wulan

Sudah seminggu suratku belum dibalas oleh Anes. Aku semakin merasa hidup di dunia ini hanya sendirian. Ya, home alone mungkin begitu kata orang Ciampea, Bogor mah. Haruskah aku hanyut dalam sepi yang tak berujung? Haruskah hidup yang sebentar ini disia-siakan dalam kesepian yang ditampilkan dalam babak demi babak kehidupan yang terus berjalan?

“Wulan life must go on!”, terngiang ungkapan ibu angkatku saat aku terpuruk dan kurang menerima realitas ketika tahu atas posisiku sebagai anak angkatnya. Ketika ingat akan hal itu, ada semangat baru dan mencoba reflikasi langkah-langkah yang kuambil untuk tetap bertahan hidup dengan tetap berguna untuk diri sendiri dan orang lain.

Angin ubah nafasku yang bau menjadi nafas wangi kehidupan karena semilirmu,
Angin ajari aku tarian ikhlas , ilmu yang kau turunkan pada pucuk pohon yang selalu menari ,

Angin sapu badanku dengan gemuruh semangat topanmu yang mampu luluh lantakkan bumi,
Angin sertai aku dengan cumbuan kasihmu,
Angin sentuhlah jiwaku dengan belaian sayangmu menuju damai sejati:
“Aku yang bisa damai dengan realitas dan keinginanku sendiri”

Angin, tetasan embun menyapa pagiku dan tersenyum penuh haru:
“Kini aku mampu berdamai dengan mereka, dia, dan diriku sendiri.”

Ketika hatiku damai, di pagi buta di atas meja makan tergelatak sepucuk surat putih yang dialamatkan kepadaku. Dengan hati lapang kubuka surat itu perlahan tapi pasti dan kulihat tulisan kecil-kecil dan agak miring milik Anes.

Bogor, pagi buta, 15 Maret 2010
Wulan sobat setiaku,

Aku bisa merasakan apa yang kau rasakan dengan keterdiaman di antara kita selama ini. Sejujurnya, hatiku bergejolak, berontak serta ingin mencairkan kebekuan di antara kita. Namun untuk melakukan itu semua dibutuhkan nyali besar, yakni mengesampingkan keegoisanku selama ini. Lantas aku bertanya pada diriku sendiri, “Apa sih sebenarnya yang kumau dari diriku dan dirimu sehingga hari-hari yang seharusnya bisa diisi dengan keceriaan dan kebahagian yang penuh canda ria hilang lenyap begitu saja?” Berulangkali pertanyaan itu kulontarkan pada diriku sendiri. Lantas memancing memoriku atas renungan di bulan suci 5 tahun silam. Sobat, suami-istri, ayah dengan anak, ibu dengan anak, kakak dengan adik, teman dengan teman ko bisa ya meskipun hidup satu atap tidak bertegur sapa berbulan bulan bahkan bertahun tahun? Pertanyaan itu kini dialamatkan kepada diriku sendiri dan Akupun merenungi itu semua. Pertama, kita terjebak rutinitas dan mengikuti keengganan untuk membuka percakapan. Kedua, kita memendam rasa saling tidak enak atas beragam masalah yang menumpuk selama ini. Ya dari persoalan sepele terkait lantai yang sudah dipel kemudian dipel ulang sampai peletakkan barang yang kurang sesuai dengan keinginan masing-masing. Ketiga, saking takutnya akan menyakiti hati satu dengan yang lain, akhirnya lebih memilih masa bodo dan dialog tanpa kata.

Wulan, sobat terkasih
Tawaranmu aku terima, tapi setelah sekolah libur karena aku wali kelas 3 dan sebentar lagi mereka mau ujian nasional. Ok, nanti kita bicarakan kembali masalah waktunya ya.

Salam,
Anes Sanjaya

Meskipun belum tuntas masalah dengan Anes, namun paling tidak surat itu telah memberi angin segar untuk perbaikan komunikasi di antra aku dan Anes. Ujian nasional sekolah telah berlalu, namun sayang tindak lanjut surat itu belum ada juga. Aku menunggu dan menunggu janji Anes, namun tidak kelihatan ada tanda-tanda untuk merealisasikan pergi ke Situ Gunung, Sukabumi. Ya, akhirnya kuberanikan diri mengirim pesan singkat pada Anes.” Nes, bagaimana rencana kita pergi ke Situ Gunung?”. Pesan singkat itupun tidak dijawabnya. Usahaku tidak berhenti sampai di situ dan kemudian kutelpon Anes ke telpon genggamnya. Namun sayang meskipun berulangkali kutelpon namun tidak diangkat-angkat.

Hatiku semakin resah dan gamang. Kembali kuberjalan perlahan menuju kali Ciliwung sambil menahan rasa pedih di hati yang diselimuti keresahan dan kegamangan yang belum bertepi. Hatiku cukup terhibur tatkala berdiri di kal Ciliwung di pagi itu. Kehadiran pencari ikan dengan sekantong ikan tangkapannya telah menyeret hadirnya seukir senyum ikhlas. Senyum ikhlas itu pula yang membuatku agak sedikit damai dan dengan terus mendorongku untuk berdamai dengan realitas seperti halnya sang ikan yang harus ikhlas siap digoreng tatkala pencari ikan sudah sampai di rumahnya. Saking asyiknya memperhatikan ikan dan pencari ikan di tepi kali Ciliwung, tanpa disadari kakiku berjalan dengan tanpa memperhatikan situasi dan aku baru tersadar tatkala tubuhku sudah roboh di tanah dengan tangan kanan menahan bobot badanku. Konsekuensi dari itu semua adalah aku keseleo dan mengalami memar tulang di sekitar sikut tangan. Esok harinya kuputuskan untuk pulang ke rumah orang tua di Bandung sebab tanganku masih sakit dan tidak bisa tidur semalaman. Sebelum pulang, aku pamit pada Anes dan suara yang keluar darinya hanya, “ya”. Sudah beberapa hari di Bandung, tidak ada sms ataupun telpon dari Anes yang menunjukkan kepeduliannya kepadaku.

Akhirnya aku tidak sabar dan mengirim pesan pendek, “Kenapa Anes tidak peduli padaku.Aku sedih.” Anes menjawab pesanku dan semakin membuatku resah dan gamang.

“Tolong evaluasi, sebenarnya siapa yang nggak peduli! Sekarang tepatnya aku nggak ingin terlibat lagi dalam kehidupanmu! Aku ingin terbebas dari segala prasangka, tuduhan dll.Bukankah kebebasan menikmati kehidupan, mencari kebahagiaan sendiri itu ingin engkau dapati! Nikmatilah itu. Aku yakin Alloh tidak pernah tidur. Dia yang lebih perduli pada siapapun. Tanamkan hal itu juga. Jadi insyaalloh ga akan pernah mengeluh. Merdeka.”

“Suka ataupun tidak, Anes sudah terlibat dalam kehidupanku. Baik berkontribusi secara positif maupun negative. “

“Perang” dingin antara aku dan Anes belum usai dan tampaknya tak akan pernah usai laksana pelaku mafia hukum ataupun pelaku mafia pajak vs penegak keadilan. Meskipun begitu, aku masih memiliki secercah harapan semoga di balik resah dalam gamang di tepian kali Ciliwung yang hitam pekat terselip kearifan jiwa dan mampu merekatkan kembali sisterhood antara aku dan Anes.

Ya sisterhood antara Aku dan Anes yang juga merepresentase sisterhood pada umumnya: yakni persaudaraan sejati antara kaum perempuan dengan perempuan untuk mengusung keadilan atas nama kemanusiaan yang mampu mencerahkan peradaban manusia. Ya peradaban manusia yang masih membutuhkan sentuhan tangan-tangan “Kartini” era facebook yang tidak melupakan akar sejarah Kartini abad ke- 18 silam. Selamat hari Kartini dan semoga kita semua mampu menjadi “Kartini-Kartini” penebar keadilan bagi kemanusiaan di tengah hiduk pikuk mafia hukum, pajak, dll. Yang membuat kita selalu resah dan gamang. (Bogor, 6 April 2010)

One response to this post.

  1. karyanya bagus… udah dimuat kemana ja??? tapi maaf belum sempat baca semua..

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: