Pengantar buku “Berbeda tetapi Setara”

Diambil dari pengantar buku “Berbeda tetapi Setara”.

Suatu siang di penghujung Januari 1997. Bambang Bujono, Redaktur majalah D & R tempat saya bekerja, memberi tugas mewawancarai seorang tokoh perempuan. Saya berusia 25 tahun dan baru beberapa tahun merintis karier sebagai wartawan majalah berita itu setelah lulus dari FISIP Universitas Indonesia. Nama tokoh itu, Prof. Dr. Saparinah Sadli yang pernah saya baca di surat kabar. Maka, ke meja saya, masuk setumpuk pustaka yang harus saya baca untuk menyiapkan wawancara dengan perempuan yang baru saja diangkat sebagai anggota baru Komnas HAM. Waktu itu, Komnas HAM juga lembaga baru. Badan nonpemerintah itu bertugas melakukan pengawasan dan penyadaran atas pelaksanaan hak asasi manusia di Indonesia. Wawancara itu membuat saya tertarik mengikuti kiprahnya lebih lanjut. Saya kagum, pada usia yang tak lagi muda, 70 tahun, ia bersuara tegas dan lantang membela perempuan korban kekerasan. Hal yang kemudian kita ketahui memang menjadi pusat kepeduliannya sampai kini (lihat Saparinah Sadli: “Pemerkosaan Telah Menjadi Terorisme Seksual“, Majalah D & R, 8 Maret 1997).

Untuk saya, pendapatnya soal feminisme yang ala Indonesia sangat tepat dan membekas di benak sampai bertahun-tahun setelah wawancara tersebut. Saparinah memang hampir di sepanjang kehidupan profesionalnya bergulat dengan berbagai isu perempuan: feminisme, bahasa ilmiahnya. Menarik bahwa ia sendiri pun menghindari penggunaan istilah itu di era 1990-an supaya orang tidak anti duluan pada berbagai isu perempuan. Maklumlah, masa itu istilah feminisme masih dianggap produk impor dari Barat. Ia berpendapat, sudut pandang yang memilah-milah, ini urusan perempuan dan itu urusan laki-laki, sebenarnya membuat kita merugi. Kita mengabaikan setengah potensi bangsa ini, yang mempunyai kemampuan sama untuk mencapai cita-cita masyarakat madani.

***

Setahun setelah wawancara itu, meletuslah Tragedi Mei 1998 menyusul turunnya Soeharto dari kursi Presiden. Tragedi besar yang mengguncang kredibilitas pemerintah Indonesia dan menjadi sejarah yang memilukan bagi perempuan Indonesia. Selain ratusan korban jiwa, ratusan perempuan etnis Cina menjadi korban perkosaan dan kekerasan seksual di tengah kerusuhan itu. Sorotan pers dalam dan luar negeri hanya tercurah pada peristiwa ini. Seperti semua wartawan lain, saya terlibat dalam peliputan dan penulisan investigasi tentang tragedi itu.

Walaupun tak lagi bertemu dengan Saparinah, kembali saya mengikuti kiprahnya dalam membela perempuan etnis Cina korban tragedi tersebut. Ia memimpin kelompok perempuan dari berbagai kalangan yang tergabung dalam Masyarakat Anti Kekerasan, menghadap Presiden Habibie, dan memaksa pemerintah mengakui dan minta maaf atas kejadian mengenaskan itu. Tak lama setelahnya, ia diangkat menjadi ketua Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan (Komnas Perempuan). Di dunia, lembaga itu satu-satunya komisi nasional yang resmi lahir dengan nama “Anti Kekerasan terhadap Perempuan”. Lembaga itu, dalam perkembangannya sampai hari ini, selalu terdepan dalam menyuarakan pembelaan atas perempuan korban kekerasan, baik kekerasan yang cakupannya nasional, lokal, maupun privat, seperti KDRT.

Saparinah Sadli lalu saya anggap sebagai sosok yang lengkap. Dunia pendidikan tinggi adalah landasan kerjanya sebagai ilmuwan. Saparinah malang melintang mengajar di almamaternya, Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, sejak lulus pada 1962. Kemudian, ia memicu kelahiran Program Studi Kajian Wanita UI pada 1990. Pada tahun-tahun berikutnya, ia konsisten hanya berjuang untuk penyadaran hak perempuan. Dalam pada itu, ia juga berjuang lewat berbagai forum. Ia tak hanya bicara di tataran teoretis, tetapi juga di tataran praktis, sebagai aktivis di Komnas HAM dan anggota Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) pada Peristiwa Mei 1998. Usahanya menggalang suara perempuan untuk mendesak Pemerintah mengakui kejadian perkosaan perempuan Cina di tengah kerusuhan Mei.

Gerakannya kemudian menjadi cikal bakal Komnas Perempuan pada 1999. Sampai tahun 2004, orang masih mengingat ia ada di garis depan dalam perjuangan menggolkan affirmative action, kuota 30 persen perempuan di lembaga legislatif. Belum terhitung partisipasi aktifnya dalam berbagai konferensi internasional sebagai wakil ilmuwan feminis dari Indonesia.

***

Di Indonesia, sampai saat ini, isu perempuan malah masih dipandang sebagai “produk impor” dari Barat. Walaupun tak sekeras pada awal kemunculannya di era 1980-an, isu itu sering kali dipandang sinis oleh kaum pria. Sebagian mengatakan, “Memangnya selama ini perempuan Indonesia didiskriminasi oleh laki-laki?” Atau tanggapan banyak perempuan yang menyangsikan, “Apakah betul kami teropresi?” Perempuan sering kali masih berada di simpang pendapat. Apakah mereka memang seharusnya melawan kungkungan patriarki, atau sewajarnya mereka tunduk pada laki-laki sebagai “pemimpin” segala hal.

Kita semua, bahkan para calon presiden dan wakil presiden Indonesia yang beberapa bulan lalu debatnya baru saja kita saksikan langsung lewat televisi nasional, sering kali lupa. Persoalan perempuan bukan permasalahan perempuan semata, melainkan urusan semua insan di dalam bangsa ini. Bila bicara tentang isu kesehatan perempuan, misalnya, itu mencakup kesehatan janin dalam kandungan, kesehatan bayi dan kesehatan balita yang akan menjadi penerus pemimpin dan pengelola bangsa ini pada masa depan. Jadi, peningkatan kualitas kesehatan ibu mutlak perlu demi menaikkan kualitas sumber daya manusia bangsa Indonesia. Kita ingin menjadi bangsa yang maju, maka tekanlah angka kematian ibu melahirkan, angka kematian balita, dan angka gizi buruk pada anak dan ibu.

Pada Februari 2009, dalam pertemuan pertama perkuliahan dengan Bu Sap yang membahas ”Stereotipi dan Peran Gender”, saya sangat terkejut ketika ia menyebutkan, “Pemerkosaan adalah terorisme seksual”. Kalimat yang persis sama dengan yang disebutkannya dalam wawancara dengan saya hampir 13 tahun yang lalu. Terbukti, pemikirannya sangat konsisten, kontekstual, dan visioner.

Lewat pengalaman saya sebagai mahasiswa Program Studi Kajian Wanita UI, sulit mencari rujukan mengenai bagaimana hasil kajian perempuan digunakan dalam isu empiris di Indonesia. Pertanyaan seperti, “Apa itu kajian wanita?”, “Bagaimana penerapannya di Indonesia?”, “Apakah hanya perempuan saja yang perlu dikaji, sedangkan laki-lakinya tidak?” malah masih menggelayut di pikiran sampai bulan-bulan pertama perkuliahan. Penyebabnya: tak ada rujukan yang dapat menjawabnya dengan sederhana dan tepat.

Bu Sap yang menjawab semua pertanyaan itu. Pemikirannya memang sering tidak terpublikasi secara luas karena sebagian besar tulisannya berbentuk makalah ilmiah dengan peruntukan kalangan akademis terbatas atau peserta seminar, baik di dalam maupun di luar negeri. Itulah sebabnya, penting sekali mendokumentasikan pemikiran Guru Besar Emeritus Universitas Indonesia ini, pada usianya yang telah mencapai 82 tahun.

***

Buku ini mengumpulkan dan menyusun kembali tulisan terpilih Saparinah Sadli dalam kurun waktu yang cukup panjang, 1984–2009. Sebagian besar dibuat sebagai makalah seminar, bahan kuliah dan kolom pada media massa. Namun, ada pula beberapa tulisan yang belum diterbitkan, reaksinya terhadap satu isu. Tentu saja dengan perspektif perempuan sebagai sudut pandangnya. Beberapa tulisan ditulis dalam bahasa Inggris karena memang ditujukan untuk forum internasional. Saya memutuskan untuk tetap menampilkannya dalam bahasa Inggris.

Berbagai tulisan tersebut dikelompokkan dalam empat bagian. Bagian pertama berjudul “Perempuan dan Identitas Gender”. Pembahasannya mencakup perjalanan panjang studi perempuan di Indonesia dan bagaimana sebuah pemikiran yang semula dicap “Barat”, akhirnya, diterima sebagai bidang yang memberi pencerahan kepada kehidupan perempuan.

Bagian kedua berjudul “Keluarga dan Perubahan Nilai”. Sesuatu yang selama ini sering tak terpikirkan, karena sejak lahir kita sudah hidup dalam dunia patriarki, adalah bagaimana memasukkan perspektif perempuan dalam setiap lini kehidupan.

Bagian ketiga berjudul “Hak Asasi Perempuan Adalah Hak Asasi Manusia”. Sebagian besar ditulis ketika Bu Sap menjabat sebagai Anggota dan Wakil Ketua Komnas HAM pada 1996–1999, kemudian sebagai Ketua Komnas Perempuan dalam dua periode, sampai 2004.

Bagian keempat berjudul “Women’s Movement, Women’s Studies and Women’s Right in Indonesia”. Bagian ini khusus mewadahi tulisan Saparinah tentang berbagai isu perempuan dan gender yang ditulis dalam bahasa Inggris.

Keberadaan buku “Saparinah Sadli: Berbeda tetapi Setara” diharapkan menjadi renungan berharga bagi semua orang, khususnya perempuan Indonesia di mana pun, apa pun profesinya. Inilah suntikan semangat untuk melakukan pemampuan diri ataupun kelompok.

Jakarta, Januari 2010
Imelda Bachtiar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: