Bersiasat di Balik Keterpinggiran: Lengger Keliling Jakarta

Disrangkum dari tesis berjudul: Lengger Calung Banyumas di Jakarta

Penulis: Kendar Umi Kulsum

Latar Belakang dan Perumusan Masalah

Pertanyaan pertama yang diajukan pembimbing ketika peneliti mengajukan tema ini adalah “Apa yang menarik dari lengger keliling?”. Stereotipe umum masyarakat pada lengger atau ronggeng adalah kesenian yang menjual tubuh perempuan dan mereka menjadi obyek penggemarnya. Stereotip sebagai “obyek seks” justru muncul dari para akademisi sebaliknya stereotip yang ada di masyarakat umum adalah lengger mengganggu atau menggoda laki-laki bahkan “merebut suami orang”. Apalagi dalam kacamata agama kesenian hanyalah mengumbar syahwat atau nafsu berahi, sehingga seni tradisi itu dianggap tabu dan tidak pantas untuk di pertontonkan.

Padahal kesenian yang berakar dari tarian tradisional itu memang menjadikan tubuh sebagai satu-satunya andalan dalam performa lengger atau ronggeng. Justru di situlah kompleksitas persoalan yang terus-menerus menjadi perdebatan dunia akademik. Berangkat pada persoalan seksualitas itulah peneliti mencoba melihat lebih dekat geliat dan resistensi perempuan penari lengger dalam kerangka paradigma feminisme.

Kelompok lengger yang menjadi unit analisis dalam penelitian ini adalah group lengger yang berkeliling di Jakarta atau bisa disebut pengamen dari satu tempat ke tempat lainnya. Mereka berasal dari Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah yang datang ke Jakarta karena di desa mereka tidak ada kesempatan berusaha, karena mereka hanya buruh tani musiman yang hanya ada pekerjaan saat musim tanam dan musim panen. Sementara itu tanggapan atau pertunjukan juga sangat jarang. Yang menarik dari survey lapangan adalah didapatkan fakta bahwa kesenian itu masih diakui dan dinikmati oleh sebagian masyarakat yang mereka jumpai dan semuanya adalah dari kelompok masyarakat urban kelas bawah. Meskipun kadang mereka berjalan masuk ke dalam kompleks perumahan elit, tetapi masyarakat yang mereka temui adalah perkampungan dibalik rumah-rumah mewah tersebut. Tergambar jelas bahwa lengger di Jakarta itu berasal dari kelompok masyarakat yang terpinggirkan pun di desa tempat asal mereka, dan ketrampilan seni yang mereka miliki juga hanya dinikmati oleh masyarakat urban kelas bawah.

Pertanyaan penelitan dalam tesis ini adalah :
1.Bagaimana male gaze mendefinisikan seksualitas penari lengger tersebut?
2.Bagaimana situasi sub-altern berperan dalam pemaknaan cara hidup bagi penari lengger tersebut?
3.Bagaimana seksualitas perempuan tertampil dalam realitas konteks hidupnya?

Unit Analisis
Subyek penelitian penulis adalah Group Sekar Budaya yang terdiri dari tiga orang penari dan lima orang nayagan, sebutan untuk para pemain alat musik. Namun, peneliti juga turut mengamati satu kelompok lain yang turut mempertajam analisis.

Kerangka Teori
Gayatri Spivak (1994) menggunakan konsep Gramsci tentang Sub-altern yang berarti berasal dari tingkat bawah, kelas subaltern adalah kelompok masyarakat yang berada di bawah hegemoni kelas yang berkuasa. Melani Budianta (2005) berpendapat bahwa perempuan seni tradisi berada di antara dua pertarungan kekuasaan berbagai elemen, pertama antara negara dan masyarakat, kedua, antara agama dan budaya rakyat dan ketiga, antara modernitas dan tradisi.

Seni tradisi dalam hal ini seni tradisi atau lengger berada dalam hegemoni masyarakat baik itu negara, agama maupun norma masyarakat dari kelas yang berkuasa. Sementara itu ada pula sekelompok perempuan yang menilai bahwa penari seni tradisi hanya menjadi obyek seks laki-laki oleh karena itu mereka harus disadarkan.

Untuk membongkar pandangan tersebut maka peneliti memilih teori Estetika Feminis dari Hilde Hein (1995), yaitu bahwa feminisme membangun cara berpikir baru, makna baru, kategori baru dalam refleksi kritis, tidak hanya merupakan perluasan konsep lama ke wilayah baru. Hein juga mengutip pendapat Joan Kelly bahwa Estetika Feminis akan mengubah seluruh sistem jaringan, membentuknya kembali, membuat konsep dari perspektif alternatif sendiri, fokus feminis adalah mengguncang fondasi historiografi tradisional.

Satu pandangan yang sangat dekat dengan isu perempuan seni tradisi adalah male gaze, Laura Mulvey (1990). Mulvey menjelaskan konsep male gaze dalam industri sinematografi, yang menurutnya terlalu menggunakan pandangan laki-laki. Dalam sinema, gambar dan arahan dalam film sangat dipengaruhi oleh laki-laki. Pesan yang ada dalam film dipengaruhi oleh laki-laki yang kemudian disampaikan pada penonton, sementara perempuan hanya menjadi tontonan. Male gaze juga dapat berarti fantasi laki-laki tentang figur perempuan, perempuan juga diarahkan agar “to be look at ness”. Agar perempuan “enak dipandang”, maka perempuan ditampilkan untuk kekuatan visual dan erotis, digambarkan sebagai obyek seksual, menampilkan diri untuk kepuasan laki-laki. Film juga seringkali menampilkan laki-laki sebagai tokoh protagonis, perempuan hanyalah dijadikan material pasif untuk tatapan laki-laki (aktif).

Analisis dan Hasil Penelitian

1.Embrio Tarian Lengger

Dalam kumpulan tulisan Thomas Stamford Raffles yang dikerjakan antara tahun 1811 hingga 1816 dalam The History of Java (1978) menulis bahwa di wilayah Jawa telah ada penari yang disebut ronggeng dalam balutan busana yang dikenal seperti lengger saat ini yaitu mengenakan kemben dan kain kebaya. Raffles menyebut kesenian itu diterima oleh masyarakat dari desa hingga keraton, meski dari beberapa sumber dikatakan lengger berasal dari tarian Gambyong atau Bedhaya Serimpi, bahkan ada yang menyebut tarian yang memang berasal dari masyarakat pedesaan yang kemudian dibolehkan ditampilkan di keraton.

Menurut pengamat ronggeng di Banyumas Ahmad Tohari eksistensi lengger di masyarakat telah mengalami pergeseran nilai sejak peristiwa G 30S PKI/1965. Dahulu lengger adalah milik masyarakat yang dipanggil cukup hanya dengan kentongan tanda desa membutuhkan lengger. Dahulu lengger selain dibutuhkan untuk pesta atau hajatan desa, lengger juga dibutuhkan untuk meramaikan panenan desa dan diharapkan panen hasil bumi akan meningkat. Hubungan antara lengger dengan penggemarnya juga sangat cair, Tohari menyebutnya “Dahsyat” karena saat penonton laki-laki dapat saja mencium atau memeluk lengger sebelum memberinya uang. Bahkan jikapun kemudian diajak tidur bersama penonton setelah pertunjukan masyarakat melihat itu sebagai hal yang biasa. Para istri saat itu tidak keberatan suaminya tidur dengan lengger, justru dia bangga berarti suaminya banyak uang. Prinsip perempuan saat itu adalah “sing penting pincuke aja digawa bali” (maksudnya adalah asalkan suami tidak dibawa pergi atau diambil oleh ronggeng). Bisa dikatakan saat itu transaksi seks dengan lengger diterima oleh masyarakat, dan lengger saat itupun menerima posisi mereka yang demikian, tetapi tentu saja atas dasar suka sama suka.

Perubahan besar terjadi setelah peristiwa G30S/PKI yang kemudian menghancurkan ronggeng dan komunitasnya karena dianggap terlibat dengan kegiatan komunis. Ronggeng saat itu mati suri dan tampil lagi tahun 1970 yang justru digunakan oleh Golkar sebagai salah satu instrumen kampanye, dan performa pertunjukan pun sudah berbeda.

2. Lengger antara Moralitas dan Modernitas

Penulis menilai pergeseran sosial di masyarakat turut mengubah eksistensi dan performa seni tradisi itu sendiri. Jika dahulu baik ronggeng maupun masyarakat menerima hubungan yang cair antara ronggeng dan penonton, sedangkan ronggeng menerima takdirnya sebagai milik masyarakat dan menghibur laki-laki hingga masa dulu ronggeng tidak menikah.

Situasi itu kemudian berubah, lengger kini menikah dan tidak lagi tidur bersama penonton, demikian pula cara memberi saweran pun tidak lagi dengan suwelan (memasukkan uang ke dalam kutang), tetapi dengan salaman atau dengan piring, terkadang topi di pemain musik. Masyarakat pun tidak mau lagi melihat hubungan kontak fisik seperti ciuman di panggung, meski banyak perempuan yang tidak keberatan suaminya menari dengan lengger. Lengger saat ini pun tidak lagi menerima perlakuan laki-laki yang menyentuh mereka.

Kini ketika pendidikan masyarakat terus meningkat, predikat obyek seks mulai diberikan pada lengger, karena dianggap laki-laki menikmati tubuh si penari melalui pandangan mereka. Seiring perkembangan modernitas, Tohari menilai kelompok muslim ada yang memusuhi lengger, padahal pada masa dahulu hal itu tidak terjadi.

3. Politik Tubuh Lengger

Anthony Synnott (2003 : 11) mengemukakan bahwa tubuh manusia dengan bagian-bagiannya dimuati dengan atribut kultural, publik dan privat, positif dan negatif, politik, ekonomi, seksual, moral dan seringkali kontroversial.

Demikian pula halnya dengan penari lengger yang sangat menyadari bahwa modal utama pekerjaan mereka adalah tubuh yang sehat dan menarik. Oleh karena itu mereka juga memperhatikan tampilan mereka, seperti memakai riasan wajah dan menyanggul rambutnya sendiri. Selain itu untuk lengger yang keliling di Jakarta, kelompok lengger yang diobservasi oleh penulis tidak lagi mengenakan kemben dan kebaya tetapi dengan model pakaian yang dijahit seperti kemben dan kain panjang. Hal itu diakui oleh subyek penelitian agar lebih praktis dan lebih leluasa ketika mereka berjalan keliling kampung. Selain itu mereka juga berlatih menari agar tampil lebih luwes dan tentunya menarik perhatian penonton.

Dalam pertunjukan lengger atau ronggeng tidak pernah ada pengaturan atau penyutradaraan yang mengatur pertunjukan mereka, meski terkadang pertunjukan lain seperti Jaipong atau lengger di tempat tertentu kadang menggunakan pembabakan. Namun, pada dasarnya penari bebas menggunakan imajinasi dan kreatifitas mereka ketika menari hingga tidak ada yang mengarahkan mereka untuk melakukan gerakan tertentu untuk menyenangkan penonton. Hal itu sangat berbeda dengan teori Laura Mulvey bahwa tampilan perempuan dalam sinema sudah diatur sedemikian rupa agar menarik perhatian penonton laki-laki, seperti menonjolkan bagian tubuh tertentu. Jadi apa yang disebut dengan male gaze berdasarkan konsep Mulvey tidaklah terjadi pada ronggeng. Dalam menari pun lengger seringkali mengikuti kata hatinya, kadang mereka bersemangat tetapi juga kadang menari ala kadarnya. Terkadang semangat menari pun tergantung dengan situasi penonton, jika penonton banyak mereka akan lebih bersemangat menari.

Dalam group yang diikuti penulis ada dua orang yang bersuamikan pemain alat musik, dan salah seorang diantara mereka sangat senang menari dengan menggoyangkan pinggulnya. Marni sering mencuri-curi gerakan, jika sang suami tidak memperhatikannya maka dia mengoyangkan pinggulnya lebih bersemangat. Penari pun tahu bahwa penonton menyukai gerakan pacak gulu dan geol, dua gerakan yang khas pada lengger. Maka tidak dapat dipungkiri jika penari pun bersiasat dengan melakukan gerakan itu untuk memikat penontonnya.

Lengger juga tidak bersikap pasif menghadapi penonton, tetapi sigap dan antisipatif jika sesuatu terjadi. Misalnya saat sedang menari bersama laki-laki penari justru selalu menjaga jarak, bahkan ketika tiba-tiba pengibing itu ingin menciumnya si penari dengan sigap mendorong sambil memalingkan muka. Penari pun memiliki gerakan-gerakan tertentu untuk mengingatkan laki-laki agar menjauh dengan sentakan selendang atau sampur.

Bagi penari, tubuh niscaya menjadi alat pertunjukan seperti ungkapan Helen Bouvier, bahwa dalam teknik pertunjukan tubuh merupakan alat ekspresi berbagai hal, baik menonjolkan jender, bercerita dan kepentingan ritus. Bouvier berpendapat bahwa penari sadar akan pesona sensualitas mereka dan memainkan peranannya agar diperhatikan orang lain.

Persoalannya kemudian adalah adanya budaya patriarki mengurung tubuh perempuan dalam ruang domestik, maka ketika tubuh berani tampil di ruang privat tentu saja hal ini menjadi masalah. Seperti istilah obyek seks yang ditempelkan pada penari tradisi karena mempertontonkan sensualitas mereka di depan umum. Yang menarik adalah ungkapan Julia Suryakusuma (prisma, 1991), pandangan yang menilai perempuan sebagai wahana seksualitas dan laki-laki sebagai pelaku seks sebagai subyek yang bisa “mengendalikan” atau “menggarap” perempuan sebagai obyek seksualnya, adalah konsisten dengan ideologi jender yang menempatkan laki-laki sebagai yang utama dan perempuan sebagai sekunder.

4. Geliat Eksistensi Seni Subaltern

Seni tradisi biasanya lahir dari kebutuhan masyarakat yang terus berkembang sesuai tuntutan sosial pada jamannya. Esten (1993) berpendapat bahwa kebudayaan merupakan reaksi umum terhadap kehidupan manusia dalam suatu proses pembaruan yang terus menerus terhadap tradisi yang memungkinkan kondisi manusia yang lebih baik. Demikian pula lengger calung Banyumas yang kini ngamen di Jakarta memiliki format yang tidak persis sama dengan aslinya di wilayah Banyumas, Jawa Tengah.

Dari awal sudah dijelaskan bahwa keberadaan kelompok lengger di Jakarta adalah untuk mencari peluang kehidupan yang sulit mereka dapatkan di kampungnya. Mereka berasal dari kelompok masyarakat marjinal yang terbatas akses pendidikan dan penghidupannya, maka secara sosial ekonomi mereka adalah masyarakat marjinal.

Di sisi lain pandangan memarjinalkan perempuan seni tradisi karena menampilkan citra tubuh dan seksual yang kental telah mengabaikan latar belakang kehidupan perempuan desa yang hanya bermodalkan tekat dan tubuh. Untuk dapat menjelaskan apresiasi seni dan musik bagi kaum subaltern penulis mencoba mengambil deskripsi dari tulisan Faruk HT tentang musik dangdut. Faruk menilai dangdut sebagai musik digemari oleh masyarakat yang marginal atau termarginalkan atau orang–orang yang berada di pinggiran. baik dari segi geografis ataupun dari sisi ekonomi, maka dangdut digemari oleh masyarakat yang tingkat ekonominya rendah (KUNCI no.12 : 2003).

Musik dangdut yang mulai kuat tampil di awal tahun 1970-an telah menjadi sarana kultural, musikal untuk aktualisasi dan identifikasi diri. Selanjutnya Faruk menjelaskan bahwa mengapa musik dangdut juga sangat digemari dalam masyarakat bawah adalah citra tubuh yang menonjol, citra kekuatan fisik dan seksual yang menjadi sandaran pada masyarakat kelas bawah. Selain itu musik dangdut mudah dipahami karena memiliki bahasa yang eksplisit, bukan bahasa kelas atas yang cenderung abstrak, kosmopolit, memerlukan pemahaman dengan kemampuan intelektual yang tinggi dan kehalusan perasaan. Kedua, lapisan masyarakat kelas bawah punya kepentingan dan cara sendiri dalam menikmati musik dangdut sebagai alat ekspresi dan identifikasi diri. Kaum moralitas, masyarakat kelas atas termasuk kalangan terdidik lah yang justru seringkali menjadi kelompok penekan atas nama moralitas, asas kesopanan dan “mencegah perempuan menjadi obyek seks”.

4. Relasi Kuasa Lengger dalam Group

Kehidupan adalah panggung sandiwara, Goffman menulis Dramaturgi sebagai teori, bahwa dalam dunia pertunjukan ada dua wilayah yang dijalani manusia yaitu publik dan privat yang dibuat untuk keamanan dan kenyamanan manusia. Publik adalah wilayah yang dipertontonkan pada orang lain bahkan dapat menjadi simbol. Sementara itu privat adalah ruang pribadi yang apa adanya tetapi terlarang untuk diketahui orang lain.

Demikian pula halnya dengan para penari lengger yang dijadikan unit analisis oleh penulis yang terdiri dari tiga perempuan. Dua orang sudah menikah dan satu masih gadis sehingga masih mengikuti orang tuanya, termasuk penghasilan yang diperolehnya masih disimpan dan diatur oleh ayahnya yang menjadi pemimpin group. Dalam kehidpan pribadi dua penari yang sudah menikah menyerahkan segala urusan pada suaminya dan sehari-hari tetap melayani kebutuhan suami termasuk dalam relasi seksual.

Hal itu sangat berbeda dengan ketika mereka dalam pertunjukan, di mana ayah da suami memainkan alat musik dan si penari atau para perempuan itulah yang menajdi bintangnya. Termasuk ketika ada pengibing yang bersikap tidak sopan atau enggan membayar, justru yang cepat bergerak menghadapi situasi adalah para penarinya, sedangkan para laki-laki hanya pasrah saja. Demikian pula halnya dalam menampilkan pertunjukan, para penari berusaha membuat penonton untuk tetap bertahan agar dapat memberikan uang lebih banyak pada lengger.

5. Pembongkaran Stereotip

Dari hasil observasi di lapangan justru menunjukkan bahwa ketika pertunjukan seni berlangsung dan terjadi kontestasi antara penari dan pengibing maka dikotomi subyek dan obyek menjadi kabur. Keasyikan menari dan menikmati pertunjukan tidak hanya dirasakan oleh si penari yang berharap mendapatkan banyak uang. Para laki-laki pun larut dalam euforia kesenangan berjoget dengan penari hingga tidak segan-segan mengeluarkan uang dari sakunya. Dengan berbagai upaya penari pun berharap agar penontonnya semakin asyik dengan pertunjukan mereka, maka apa yang disebut dengan desire dan seduction menjadi cair dalam pertunjukan. Hal itu pun diungkapkan oleh salah seorang penonton perempuan yang menyaksikan pertunjukan bersama suaminya dan membiarkan sang suami menari bersama lengger. “Nggak apa-apa suami saya nari dengan lengger, lagian dia jarang dapat hiburan,”, dengan tegas si ibu mengatakan sama sekali tidak cemburu atau khawatir dengan pertunjukan tersebut.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: