Diskusi Umum Kajian Wanita UI: Perempuan dan Penghapusan Kemiskinan

Pada tanggal 8 Maret 2010 kemarin, Program Pascasarjana Kajian Wanita UI mengadakan diskusi umum bertema Perempuan dan Penghapusan Kemiskinan. Tema itu diangkat karena Kajian Wanita UI merasa kalangan akademik kurang mengangkat isu kemiskinan. Ketika ilmu Psikologi menelaah kemiskinan maka pendekatannya sangat bias kelas menengah. Oleh karena itu, pihak Kajian Wanita UI mengundang Nani Zulminarni, yang sejak 1987 berkecimpung di PPSW (Pusat Pengembangan Sumberdaya Wanita) kemudian tahun 2001 mengembangkan organisasi PEKKA (Pemberdayaan Perempuan Kepala Keluarga), sebagai salah satu narasumber yang cukup berpengalaman mengelola program pemberdayaan perempuan miskin.

Kristi melakukan presentasi terlebih dulu mengenai teori psikologi klasik dan sekilas mengenai pemantapan perilaku dan kebiasaan. Manusia dan kemiskinan yang dialami berada pada suatu konteks. Pertanyaannya kemudian, apakah memang ada budaya kemiskinan atau yang justru terjadi adalah kemiskinan struktural?

Dalam penelitian yang dilakukan psikolog luar negeri, dibuktikan bahwa budaya kemiskinan merupakan bentuk penyesuaian yang telah dipelajari kelompok marjin untuk dapat bertahan hidup. Jika tidak, mereka mungkin dibuat gila dengan berbagai tekanan sosial ekonomi politik. Perilaku mereka adalah bagian dari sikap realistis menyikapi kondisi yang penuh keterbatasan. Sebagai kelompok marjinal, mereka berada pada posisi yang dituntut cepat menyesuaikan diri terhadap kebijakan yang dibuat kelompok penguasa. Namun banyak pihak sering menyalahkan kelompok marjinal atas kemiskinan yang mereka alami. Kelompok marjinal dianggap memiliki seperangkat karakter yang menyulitkan mereka ke luar dari kemiskinan. Karakter tersebut antara lain malas, aspirasi rendah, hamil muda/hamil di luar nikah, banyak anak, melakukan kekerasan, fatalitas, dll. Kristi menilai kondisi dan karakter yang ditunjukkan kelompok marjinal hampir sama dengan pengalaman korban KRDT yang “belajar menjadi tidak berdaya” (learned helplessness).

Namun, Zulminarni menerangkan bahwa sebagai sebuah strategi, karakter yang dimiliki kelompok marjinal dapat berubah melalui penguatan kapasitas dan pengorganisasian kelompok yang difasilitasi oleh LSM. Dari pengalamannya di lapangan, Zulminarni menilai kegiatan penguatan dapat perlahan menggugah kesadaran kritis kelompok marjinal dan memotivasi mereka untuk melakukan perubahan dan berusaha keluar dari jerat kemiskinan.

Kristi dan Zulminarni menilai pemerintah Indonesia belum memiliki kategori kemiskinan yang ajeg sebagai rujukan. Selama ini belum pernah ada pemetaan dan pengategorian kelompok miskin yang menyeluruh sehingga pemerintah masih memakai standar penghasilan di bawah 2 US Dollar per hari atau asupan kalori per orang. Kedua ukuran tersebut dianggap belum memadai untuk merangkum dimensi kemiskinan yang terjadi di Indonesia.

Salah satu pemaparan Zulminarni yang menarik perhatian adalah presentasi mengenai Grameen Bank dan SEWA (Self Employed Women’s Association) Bank. Kebanyakan orang mungkin lebih mengenal Grameen Bank. Kedua jenis lembaga itu menggunakan pendekatan yang berbeda dalam memberdayakan ekonomi masyarakat marjinal. Grameen menggunakan pendekatan pemberian kredit yang difokuskan pada perempuan, sementara SEWA yang seluruh anggotanya perempuan mewajibkan proses menabung sebelum meminjam.

Grameen menjadi fenomenal karena metodenya lebih komprehensif. Profit yang mereka peroleh digunakan untuk membangun usaha yang dapat menampung produksi wirausaha nasabah mereka. Dengan begitu, debitur atau nasabah Grameen memiliki alternatif dalam mengelola pinjaman dan produksinya dapat disalurkan ke jaringan bisnis Grameen. Selama ini, kelemahan dari program pemberdayaan ekonomi adalah tidak disediakannya ruang bagi usaha kecil untuk memasarkan dan mendistribusikan produksi mitra dampingan (usaha kecil) ke pasar. Alhasil, produksi mereka menumpuk dan tidak mampu bersaing dengan pihak lain yang memiliki jalur distribusi lebih baik.

Namun Zulminarni menjelaskan bahwa terbukanya akses perempuan kepada kredit Grameen belum mampu mengubah relasi kekuasaan jender di masyarakat Bangladesh. Sebagian perempuan justru dipaksa oleh laki-laki dalam keluarga untuk meminjam dan menanggung beban hutang, sementara penguasaan riil masih berada di pihak laki-laki. Selain itu, dengan semakin besarnya nasabah, evaluasi keberhasilan lebih difokuskan untuk mempertahankan citra tingkat pengembalian pinjaman Grameen yang mencapai 80 persen.

Zulminarni meyakini bahwa koperasi adalah bentuk pemberdayaan ekonomi yang paling sesuai untuk konteks Indonesia. Koperasi telah mengalami banyak perkembangan dan penyesuaian sejak diperkenalkan di Indonesia seperti halnya Grameen Bank dan SEWA Bank. Di tengah popularitas dan duplikasi metode Grameen Bank di berbagai negara, termasuk Indonesia, diskusi ini memberi penjelasan secara proporsional mengenai keunggulan dan kelemahannya. Diskusi berlangsung menarik, terutama sebagai upaya pembelajaran kalangan akademik dari lembaga-lembaga yang sudah melakukan pengorganisasian komunitas di akar rumput. Program diskusi jelas akan meningkatkan kapasitas pengetahuan mahasiswa dan alumni untuk bekerjasama menangani masalah kemiskinan, baik melalui pendekatan budaya maupun struktural. (admin)

One response to this post.

  1. […] ini hasil liputan yang sudah dimuat di blog Kajian Perempuan.Selamat […]

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: