Perempuan Kesepian

Oleh Ratna Laelasari Yuningsih

Kutermenung dalam beku
Menatap angin dalam hangat air mata

Ingin rasanya aku mengkritik Tuhan, tapi … rasanya tidak etis.

Meskipun demikian, tetap terlontar:

Tuhan, mengapa air mata perempuan itu kau biarkan menyamudra? Mengapa para penyihir itu Kau ijinkan meluluhlantakkan hatinya yang terluka?
Kini jiwa-jiwa itu telah mati direnggut penguasa yang telah mengusirnya pula dari tanah kelahirannya sendiri dan yang lebih ironis: mereka tidak pernah menikmati keberadan dirinya sendiri untuk kesenangannya sendiri.
Mereka tidak memiliki tubuhnya sendiri. Lantas, tubuh mereka sebenar milik siapa?”
Kutermenung dalam sepi sambil mengenang perempuan kesepian itu.

Perempuan itu telah mengilhamiku untuk menulis lirik di atas. Untuk pertama kali aku bertemu dengannya di Carrefour Lebak Bulus. Dia tersenyum manis ketika berpapasan denganku dan akupun membalasnya. Tanpa sengaja, ketika di kasir aku bertemu lagi dengannya. Akhirnya, aku terlibat percakapan panjang dengannya. Meskipun baru pertama kali bertemu, akan tetapi seolah-olah kita tengah bertemu dengan kawan lama. Singkat cerita, aku dengannya menjadi sahabat baik. Dia sering mengundangku ke rumahnya yang mewah. Akupun menerima tawarannya itu karena aku senang berkawan.

Pertengahan Maret 2003, dia mengundangku untuk bermalam di rumahnya karena katanya ada sesuatu yang ingin dia bicarakan denganku. Sepulang dari kantor aku langsung menuju Pondok Indah dan tepat pukul 19.00 WIB aku baru sampai di rumahnya. Seperti biasa, dia menyambutku dengan ramah. Akan tetapi, ada sesuatu yang aneh dari sorot matanya ketika menatapku. Pikiran negatif kusingkirkan jauh-jauh. Setelah mandi dan makan malam, dia mengajakku duduk di beranda sambil menikmati kerlip bintang dan cahaya rembulan yang remang-remang.

“Hai Mbak, apa yang mau dibicarakan? Ada yang bisa saya bantu?”

Dia diam dan matanya menerawang jauh tidak langsung menjawab pertanyaanku. Sepuluh menit kemudian, barulah dia membuka pembicaraan.

“Saya tahu kamu lebih muda dariku, tetapi saya pun tahu kamu lebih dewasa dibandingkanku dalam menyikapi peliknya kehidupan. Tolong jawab dengan jujur Na, apa yang akan kamu lakukan jika kamu baru menyadari bahwa keputusan yang diambil beberapa tahun silam adalah keputusan yang kurang tepat.”

“Maksud Mbak? Bisakah Mbak ceritakan dengan lebih rinci?”

Oke.”

Aku diam seribu bahasa ketika Mbak Riana selesai menceritakan luka liku kehidupannya. Sekilas alur kehidupannya biasa-biasa saja karena kasus yang menimpanya seringkali dialami pula oleh perempuan-perempuan lainnya. Tema besarnya adalah perempuan masih dipandang dan memposisikan dirinya sebagai the other (liyan) tidak menjadi self (subyek) atas dirinya sendiri. Dia menikah dengan Mas Andi tidak dilandasi oleh rasa akan tetapi dilandasi oleh faktor-faktor yang ada di luar dirinya dan hal itu seringkali membuatnya tersiksa. Pikiran nakalnya kadang menghadirkan kejutan tersendiri buatku.

“Sebenarnya, saya dan pekerja seks komersial adalah sama saja. Bedanya adalah saya memiliki status terhormat sebagai isteri, sedangkan mereka tidak demikian dalam pandangan konvensi masyarakat. Coba kamu bayangkan apa yang sebenarnya terjadi? Hatiku entah di mana ketika setiap berhubungan intim dengan suamiku. Tubuhku memang dapat digunakan olehnya sepuas hatinya. Dengan kata lain, suamiku memang memiliki tubuhku, namun hatiku tidaklah demikian. Hatiku adalah milikku, akan tetapi tubuhku bukanlah milikku, melainkan milik suamiku dan milik keluargaku, terutama milik bapakku.”

Aku tersentuh dengan ungkapannya itu dan telah membuka pintu kesadaranku sekaitan dengan eksistensi diriku. Suatu malam ketika aku menginap di rumahnya, pada pukul sepuluh malam, dia mengetuk kamar tidurku. Kubuka pintu dan terlihat matanya sembab dan dia langsung memelukku erat-erat. Aku diam saja dan dia terus menangis dengan hebat. Aku bingung entah harus berbuat apa dan untuk sementara aku mematung sambil mengelus rambutnya. Kurang lebih sepuluh menit dia menangis di dadaku dan aku mencoba menenangkannya. Untuk sementara waktu, dia belum bisa berbicara. Kemudian aku sangat terkejut, ketika tiba-tiba dia menciumi cuping telinga, pipi, dan bibirku. Kurapatkan bibirku dan tidak memberi reaksi apapun. Tidak lama kemudian, dia meninggalkan aktivitasnya itu. Dia langsung meminta maaf padaku. Aku diam, tidak mengiyakan tidak pula menegasikan. Seribu pertanyaan berkecamuk dalam diriku diiringi oleh rasa yang merasakan adanya sesuatu yang hilang. Pada malam itu, aku menginginkan datangnya pagi lebih cepat lagi dan ingin segera pergi dari rumah Riana. Kesokan paginya, setelah sholat shubuh aku langsung pergi dengan wajah dibalut oleh rasa sedih yang tak terkira. Jiwaku patah dan sangat kecewa dengan sikap Riana yang seperti itu kepadaku. Saat gundah seperti itu, aku jadi teringat Sang Nabi-nya Gibran.

Akalmu dan perasaanmu ibarat kemudi dan layar bagi jiwamu yang mengarungi samudra. Apabila, layarmu atau kemudimu patah, engkau masih dapat terombang-ambing dan terhanyut-hanyut, atau masih bisa berpegangan pada sebuah perhentian di tengah samudera.Karena akal, yang mengendalikan seorang diri, adalah ketakutan yang mengikat, dan perasaan yang tak diawasi, adalah nyala api yang membakar pada kerusakan dirinya.

Meskipun asaku sedang gundah, tetapi aku pergi juga ke kantor di Kuningan. Pikiran dan hatiku masih dihantui oleh peristiwa semalam. Efeknya, hari itu pekerjaanku banyak yang salah dan yang menjadi korbanya adalah temanku karena dia yang langsung dimarahi oleh atasanku.

Riana terus meneleponku, namun aku tidak berminat menjawabnya dan akhirnya telepon genggamku kumatikan selama seminggu dan ketika kubuka kembali pesan dari Riana sudah menumpuk. Salah satunya:

“Na, aku paham dengan perasaanmu karena akupun pernah berada dalam posisimu. Untuk lebih jelasnya, tolong baca mail-ku yang kukirim 20 Maret 2003. See you.”

Seusai membaca pesan dari Riana, aku langsung menyalakan komputer dan membaca suratnya.

Nala sayang,

Ketika kamu membaca suratku, mungkin aku sedang berada di perjalanan menuju Jerman. Suamiku sedang sakit dan kini dirawat di sana. Aku tidak tahu kapan akan kembali lagi ke Indonesia.

Nala yang baik, sekali lagi maafkan aku. Aku telah merusak pertemanan kita. Terima kasih atas uluran persahabatan yang kautawarkan. Sejujurnya, sebelum aku bertemu denganmu aku sudah kehilangan kepercayaan pada orang lain. Aku muak, setiap relasi yang terjalin senantiasa dilandasi oleh kepentingan politis dan aku merasa cape. Kondisi seperti itu membuatku menjadi seorang yang paranoid. Selain itu, pengalaman masa kecilku yang tidak baik karena ayah dan ibuku otoriter dan aku sering mendapat kekerasan fisik dan psikhis dan sampai dewasapun hal itu masih berlanjut dan hal itu mewujud dalam bentuk pemaksaan perkawinan karena saat itu usiaku sudah kepala tiga dan dipandangnya tidak elok kalau belum bersuami.

Selanjutnya, ketika aku menikah hal yang sama kuterima dari suamiku. Diapun sama otoriternya dengan ayahku dan sejarah kekerasan fisik dan psikis yang pernah kuterima dari ayahku terulang kembali. Kondisi seperti itu memojokkanku dalam sudut kehidupan yang membuatku kesepian dan tersiksa. Sementara itu, aku tidak memiliki siapa-siapa dan kesulitan untuk menemukan orang yang bisa diajak berbagi suka dan duka sekaligus.

Tiga tahun yang lalu pernah kucoba membuka diri pada seorang konsultan,ia bernama Mariana,namun sayang yang kudapat hanyalah sebuah kekecewaan. Pada awalnya, dia bersikap baik dan sopan, akan tetapi beberapa bulan kemudian dia bertindak kurang ajar. Dia memperlakukanku seperti aku memperlakukanmu di malam itu. Bedanya, kamu tidak bereaksi apapun, sedangku aku memberi respon. Selanjutnya, aku menjadi korban yang menikmati dan hal itu berlangsung selama setahun. Akhirnya, aku mengetahui motif sebenarnya sang konsultan, mengapa memperlakukan aku seperti itu, yakni UUD alias ujung-ujungnya duit. Ternyata, dia berlaku seperti itu bukan hanya kepadaku, tetapi pada pasiennya yang lain juga.Kawan, aku kembali terpuruk seiring dengan lenyapnya kebebasan yang kuinginkan.

Ada angin yang tergoda,

menari-nari dengan rambut jabrignya menelanjangi tubuh indahnya sambil berseru dan menyanyikan tembang kebebasan yang dinantikannya.

Sekali lagi ia kecewa, Kebebasan yang ia rindukan amblas bersama komedi politik yang dimainkan oleh kawannya yang konon berjuang atas nama “pembebasan manusia atas tirani manusia”. Namun sayang, faktanya mengatakan “ dia adalah agen pensosialisasi tirani manusia atas manusia.” Ironis memang, tetapi itu adalah fakta yang semakin mengukuhkan bahwa selama uang menjadi prioritas hidup, “Tirani atas manusia berbalut baju materialistis” senantiasa hadir.

Nala yang bijak,

Ketika aku bertemu denganmu, aku merasa nyaman dan apa yang kuimpikan selama ini berada dalam dirimu. Kuakui aku mengagumi dan mendambakan dirimu, seandainya engkau pria, tentunya aku jatuh hati padamu dan aku akan memintamu untuk menjadi pendamping hidupku. Akan tetapi, aku sadar itu semua hanyalah cita-cita yang utopis. Selain itu, walaubagaimanapun kini aku berstatus sebagai istri dari seorang lelaki meskipun aku tidak mencintainya. Akhirnya, kini aku mengkudeta diriku sendiri dan mengajaknya untuk berkompromis dengan realitas, meskipun sangat menyakitkan.

Nala yang baik,

Sekali lagi maafkan semua kekhilafanku.Semoga kita bisa berjumpa lagi dalam situasi yang lebih baik dan aku doakan semoga semua mimpi-mimpimu menjadi kenyataan.

Salam manis,

Sahabatmu,

Riana

Aku menarik nafas dalam-dalam seusai membaca suratnya Riana. Aku semakin memahami latar belakang kehidupannya, mengapa ia menjadi seperti itu. Aku merenung memikirkan nasibnya dan ku-reply mail-nya.

Mbak Riana yang baik,

Aku bisa memahami kondisimu dan sudah memaafkanmu. Meskipun demikian, aku tidak dapat melupakannya. Mungkin benar perkataan temanku, “kita bisa memaafkan tetapi tidak bisa melupakan atas suatu peristiwa yang pernah menimpa diri kita.” Selain itu, aku mencoba mengambil hikmah atas peristiwa di malam itu. Lebih lanjut lagi, aku semakin memahami arti dan batas cinta dengan persahabatan yang pernah dilontarkan oleh teman diskusiku. Dia mengatakan bahwa batas antara cinta dan persahabatan itu sangat tipis. Cinta dan persahabatan itu ibarat ompol. Kita bisa merasakan hangat air ompol sekaligus baunya. Sepakat atau tidak, selanjutnya terserah anda. He he he….

Mbak Riana,

Ada kepedihan yang terpancar dari sudut mata kirimu,

Mata kananmu bercerita padaku bahwa perjalanan laramu belum juga kunjung berakhir.

Bulir air matamu kini melaut, kuingin merenangi lautmu, tetapi sayang semua itu hanyalah sebuah cita yang tidak realistis. Realistis? Apakah “dunia” ini realistis? Bukankah semua yang ada di dunia ini hanyalah hasil dari permainan tebak kata dan permaianan makna? Kawan,simpanlah laramu, usah merasa gusar, Jangan biarkan buliran air matamu semakin menyamudra. Ah kawan, aku tak kuasa.Aku takut terbawa ombakmu, tetapi aku takkan pernah hidup tanpa nyanyian ombakmu.

Sebab di balik deburan ombak ada eksistensi yang menjadi, yakni menjadi diri sendiri dan menyadari kekuatan atas dirinya sendiri.

Bogor, 21 Juli 2003

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: