Dialog Kasih dengan Ibu Sosialku

Oleh Ratna Laelasari Yuningsih

Ibu sayang,

Meskipun saya tidak terlahir dari rahim biologismu, saya adalah anakmu juga yang lahir dari rahim sosialmu, terikat oleh benang kasih kemanusiaan, yang senantiasa memancarkan dan menebarkan aroma kasih sayang pada siapa pun tanpa memandang ras atau pun status sosial. Ibu, engkau memang hebat. Ajaranmu yang begitu agung (ajaran cinta kasih) dengan mudah dapat kautancapkan dengan kokoh dalam hati nuraniku. Namun sayang, engkau tidak dapat menyaksikan hasil jerih payah didikanmu.

Ibu, meskipun kini dunia kita telah berbeda, saya pikir tidak ada salahnya jika tradisi saling mengirim “surat” kita lanjutkan kembali. Melalui bahasa tertulis, kita ciptakan ruang dialogis yang kondusif untuk menyemaikan benih kemanusiaan, yang mampu memberikan pencerahan pikiran dan hati bagi siapa saja, yang mendambakan peradaban manusia, yang lebih terhormat dan lebih baik. Hal itu menjadi harapan saya. Tentu, yang menjadi harapanmu juga bukan.

Ibu masih ingatkah? Satu perkataanmu, yang senantiasa terngiang di telingaku, “Bagaimana, ya, seandainya bayi dimasukkan lagi ke dalam rahim?” Dan … kita tertawa berderai bersama karena pada saat itu kita merasa ungkapan itu lucu. Tetapi di balik itu semua, kita pun sama-sama merasakan kepedihan yang amat sangat ketika kita berdiri dengan ajek menatap persoalan bangsa dan negara yang morat-marit dan nyaris “bubar jalan”. Mau dibawa ke manakah masa depan anak bangsa ini?

Ibu yang saya rindukan,

Mari kita lanjutkan nostalgia kita! Saya bertanya padamu, “lantas apa hubungannya antara bayi yang dimasukkan kembali ke rahim sang ibu dengan persoalan bangsa dan negara, serta orientasi masa depan anak bangsa?” Engkau diam seribu bahasa. Tidak lama kemudian seukir senyuman menghiasi bibirmu sambil kepalamu diangguk-anggukkan. Tanganmu yang sebelah kanan merogoh saku bajumu, lalu mengeluarkan dan menyerahkan amplop berwarna biru muda kesukaanmu kepadaku.

Bandung, 30 November 2000

Ya Allah, Anugrahilah kami perpisahan total dari yang selain Engkau,
serta cerahkanlah pandangan hati kami dengan pandangan yang senantiasa menatap-Mu, sehingga terkoyaklah hijab cahaya
dan jiwa-jiwa kami dicekam
oleh cemerlang kesucian-Mu. Amin.

(Munajat-i saban)

Anakku yang kukasihi,

Dalam surat kali ini, Ibu ingin menyampaikan kondisi hati yang sedang gundah gulana. Ada kepedihan yang menguasai jiwaku, namun ada pula suka cita yang menggelembungkan dan mempermainkan nuraniku. Ya, nuraniku. Bukankah nurani kita senantiasa berbicara jujur dan penuh ketulusan, serta mau mengungkap apa adanya? Memang kusadari, tidak selamanya bahasa nurani yang keluar dari kecerahan batin akan membuat diri kita nyaman. Akan tetapi, jika hal itu ditangkap oleh kebeningan, dan ketulusan hati, serta keluhuran jiwa, akan menjadi lain persoalannya. Maksudnya, batin siapa pun akan tercerahkan jika ia mengikuti kejujuran bahasa nuraninya yang suci, meskipun telah mengoyak-ngoyak dan menggonjang-ganjingkan keangkuhan dirinya. Anakku manis, Ibu ingin mengikuti kejujuran bahasa nurani, yakni mengungkap kebohongan yang selama ini kututup-tutupi.

Anakku sayang,… maafkan Ibu dan Ibu harap jangan bersedih dan berkecil hati. Selama ini Ibu telah membohongimu. Hari ini harus Ibu ungkap dan Ibu yakin Ayu dapat menerima kenyataan dengan lapang dada. Sebenarnya …, Ayu tidak terlahir dari rahimku sendiri. Bagi Ibu, anak yang terlahir dari rahim biologis maupun sosial adalah sama. Kasih sayang Ibu tak akan pernah berubah dan tak akan pernah membedakannya. Engkau tetaplah anakku, yang telah menggugah kesadaranku dalam memahami makna hakikat rahim.

Ayuku sayang, perempuan dengan rahimnya telah menciptakan sebuah dunia menurut wajahnya sendiri. Dengan demikian, pada dasarnya kekuasaan dunia ada di tanganmu, di tangan para perempuan. Hebat bukan! Tapi, ya memang lebih hebat yang membuat kita.

Selanjutnya, yang menjadi persoalan sekarang adalah apakah para perempuan sudah tepat menggunakan paradigma yang dijadikan pola pikir dan tindak dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, serta bermasyarakat?” Apakah paradigma yang digunakan itu sesuai dengan masyarakat kita yang multietnis dan multibudaya? Walau Ibu ungkapkan ini bukan berarti tidak sepakat dengan langkah-langkah yang kamu lakukan dengan teman-teman di LSM-mu. Dalam hal ini, ibu hanya mengingatkan karena persoalan yang menyangkut paradigma kehidupan adalah vital. Masih ingatkan dengan masa kegelapan Barat. Barat mengalami masa kegelapan karena salah memilih paradigma. Mestikah sejarah serupa terulang kembali?

Ingatlah sayang, jangan salah memilih paradigma kehidupan! Nasib bangsa ini dipertaruhkan di tanganmu. Masa depan bangsa ini ada di kepala, dan hatimu, serta rahimmu. Sucikan kepala dan hatimu dengan saripati ketuhananmu yang senantiasa hanif, niscaya dalam rahimmu akan terlahir anak-anak biologis dan anak-anak sosial yang tercerahkan. Anak-anak yang senantiasa sadar akan eksistensi diri, sejarah, dan lingkungannya

Ayuku sayang, kita mesti banyak belajar dari rahim kita sendiri. Ayuku manis, ada sebuah puisi tentang rahim untukmu. Tolong cermati, resapi dan selami maksud dari puisi di bawah ini!

Kutembangkan Nyanyian Rahim

Tembangkanlah nyanyian kebisuan rahim

Meskipun ia bisu, di balik kebisuannya, ia telah mengandung kehidupan.

Kandungan yang ada dalam dirinya, dia pupuk dengan penuh kedamaian, dan cinta kasih, serta tanpa pamrih.

Kembali, kembaliah ke dalam rahim.

Rahim adalah cikal bakal kehidupan

untuk membentuk manusia baru dalam masyarakat baru.

Rahim adalah arena politik yang dihiasi oleh pendekatan damai serta mampu melakukan rekonsiliasi ideologis.

Rahim adalah tempat bermuaranya berbagai kesadaran; sadar diri, sadar sejarah, dan lingkungan; dan ia pun arena yang memiliki sikap yang lebih adil: adil pada dirinya sendiri dan bayinya.

Rahim adalah ….

Apa pendapatmu tentang puisi di atas? Ayu sayang, puisiku di atas telah menyebabkan hadirnya sebuah pertanyaan yang belum sempat terjawab olehku, mudah-mudahan dapat dikembangkan olehmu. Dapatkan rahim dijadikan sebagai “paradigma” dalam suatu gerakan sosio-kultural seperti gerakan perempuan ataupun gerakan kemanusiaan pada umumnya?

Ibu lelah, Yu, ingin bobo dulu. Oh ya, ada satu lagi, kemarin Ibu membaca tulisan Cak Nun, Nasionalisme Muhammad: Islam Menyongsong Masa Depan-Nya. Ada pernyataannya yang sangat menarik. Ibu kira , Ayu pun pasti tertarik.

Jangan-jangan proses kebiadaban peradaban manusia yang kini banyak diadili oleh makin banyak orang itu terkandung dalam hidupku, dalam cara kerja otakku, dalam tas kerja profesiku, dalam bagian dari doa-doa sembahyangku, bahkan menjadi isi-isi terpenting dari kamar-kamar rumahku.

Apa pendapatmu? Yu, sebenarnya masih ada surat lain untukmu yang disimpan di laci lemari Ibu. Sampai berjumpa kembali dengan surat Ibu yang lain.

Sun sayang,

Ibu

Ibuku sayang,

“Dapatkah rahim dijadikan paradigma gerakan sosio-kultural?” Pertanyaan Ibu telah menjadi pertanyaanku pula. Ibu, mari kita lanjutkan kembali dialog kita. Namun, terus terang saya bingung, kapan dan di mana kita dapat berekreasi intelektual dan spiritual bersama-sama lagi. Di samping itu, harus dikirim ke manakah surat ini? Kepada malaikat Ajroilkah ataukah kepada malaikat Ridwan?

Ibu, saat ini saya kangen sekali padamu. Hadirlah dalam mimpiku sehingga dialog kita yang tertunda dapat berlanjut kembali. Bagaimana Ibu?

Yang selalu mengasihi dan merindukanmu,

Anakmu

Ayu Sekar Vidya

Jakarta, 5 Juni 2001

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: